Posted in Uncategorized

Etika Hacker

Aku dengar saat ini di Indonesia pemerintah sedang menyusun rancangan undang-undang tentang cybercrime dengan sasaran hacker. Sekilas setelah membaca rancangan tersebut, timbul dalam pikiranku, bagaimana dengan sisi teknis dari hacking yang tidak dapat atau tidak mungkin tercakup dalam bahasa hukum? Berangkat dari pertanyaan tersebut aku mempertanyakan motif pembuatan rancangan undang-undang itu.

Komunitas underground sendiri rasanya tidak perlu diatur dengan hukum-hukum rancu untuk mengaturnya. Mereka sudah mempunyai manifesto dan etika sendiri yang mengatur dan mengawal tindakan mereka. Salah satunya adalah tentang etika hacker yang dimuat dalam Hackers: Heroes of the Computer Revolution.

  1. Access to computers—and anything which might teach you something about the way the world works—should be unlimited and total. Always yield to the Hands-on Imperative!
  2. All information should be free.
  3. Mistrust authority—promote decentralization.
  4. Hackers should be judged by their hacking, not bogus criteria such as degrees, age, race or position
  5. You can create art and beauty on a computer.
  6. Computers can change your life for the better.

Tak hanya itu, The Mentor dalam Manifestonya tahun 1986 pernah membuat sebuah kerangka tentang seseorang yang dapat disebut sebagai hacker. Manifesto dari The Mentor itu dikenal dengan “Hacker Manifesto”:

This is our world now… the world of the electron and the switch, the beauty of the baud. We make use of a service already existing without paying for what could be dirt-cheap if it wasn’t run by profiteering gluttons, and you call us criminals. We explore… and you call us criminals. We seek after knowledge… and you call us criminals. We exist without skin color, without nationality, without religious bias… and you call us criminals. You build atomic bombs, you wage wars, you murder, cheat, and lie to us and try to make us believe it’s for our own good, yet we’re the criminals.

Yes, I am a criminal. My crime is that of curiosity. My crime is that of judging people by what they say and think, not what they look like. My crime is that of outsmarting you, something that you will never forgive me for.

I am a hacker, and this is my manifesto. You may stop this individual, but you can’t stop us all… after all, we’re all alike.

Contoh lain tentang Etika Hacker yang ditulis oleh Scorpio:

                           My Code of Ethics

     All true hackers have thier own set of ethics, a sort of rules that
     he/she goes by when hacking. The ethics of a real hacker are much
     different from that of a lamer or virus spreader. All a lamer cares
     about is getting warez and forgetting credit where credit is due.
     All a virus spreader wants to do is spread viruses and delete
     files. People such as this are to be considered scum, and they give
     the true hacker a bad name. No skill or artistic expression is
     required to do what they do. The true hacker goes by his ethical
     code, respecting the computers he works on and hacks. Here is my
     code of ethics:

     * Above all else, respect knowlege & freedom of information
     * Notify system administrators about any security breaches you
       encounter
     * Do not profit unfairly from a hack
     * Do not distribute or collect pirated software
     * Never take stupid risks - know your own abilities
     * Always be willing to freely share and teach your gained
       information and methods
     * Never hack a system to steal money
     * Never give access to someone who might do damage
     * Never intentionally delete or damage a file on a computer you hack
     * Respect the machine you hack, and treat it like you'd treat your
       own system

                             scorpio@info66.com

Etika dan Manifesto tersebut dapat dikatakan sebagai “guideline” seluruh hacker di dunia ketika ngoprek entah itu sistem operasi komputer atau hardware hacking sekalipun. Bahkan menurut beberapa sumber, Manifesto Hacker merupakan fondasi awal etika seorang hacker dari yang ada saat ini. Aku sendiri meskipun bukan hacker, melihat 2 hal diatas lebih “tajam” dari sekedar rules atau aturan bagaimana cara memakai internet untuk kalangan newbie.

Lalu bagaimana jika terjadi blocking atau filtering terhadap internet seperti di Cina tanggal 2 Juni kemarin? Ya sudah tentu BYPASS! Ngelanggar hukum? ah…polisinya juga gak ngerti internet, contoh? kasus KPU kemarin. Internet sebagai media informasi harus alias wajib dapat diakses oleh masyarakat! (tidak tahu juga untuk Indonesia, apakah internet sudah barang umum atau tidak, maklum dial-up dan mahalnya selangit!!🙂 )

Terkadang aturan itu menjadikan kreatifitas menjadi statis! Karena untuk memulai sebuah penemuan atau hasil yang lebih maksimal dari sekedar berpikir normal, terlebih dahulu diliputi perasaan tidak tenang dan was-was akan peraturan yang dibuat sehingga pisau kreatif tumpul sebelum dibuat untuk “memotong”! Oh iya, nama aturan itu jika tidak salah “nguping” bernama Rancangan Undang-Undang Tidak Pidana Teknologi Informasi yang disingkat RUU TIPITI!!

One thought on “Etika Hacker

  1. Hadeh, siapa lagi pengusul TIPITI itu?
    Negara ini kok malah mengurusi ranah maya yang payah dibatasi.
    Padahal ada UU lain yang mengurusi hajat hidup warga yang lebih azasi, yang belum beres.
    Coba, mana UU jaminan kesehatan, sosial, dan pendidikan yang gratis. Tidak beres sampai sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s