Posted in ilmu, Internet, masyarakat

Prita Mulyasari dan Keadilan

Prita Mulyasari akhirnya divonis bebas oleh pengadilan Tangerang, Banten. Di dalam putusannya hakim berkesimpulan Prita tidak terbukti melakukan tindak pidana pencemaran nama baik seperti yang dituduhkan oleh pihak Omni Internasional. Dewi Keadilan yang selama ini disangsikan sudah “mati” ternyata masih ada dan dengan setia menemani diri Prita dalam pembacaan putusan tadi. Saya merasa terharu atas putusan tersebut, bayangkan saja secara psikologis ibu dua bayi tersebut sangat tertekan dengan proses persidangan yang cukup lama, tak hanya itu, dia dikalahkan dalam kasus perdata dengan diwajibkan mengganti kerugian-kerugian dari Omni Internasional yang merasa nama baiknya dicemarkan.

Dari sebuah email berujung kepada jail, email tertutup kepada beberapa temannya ternyata berbuntut panjang. Email tersebut tidak sengaja tersebar ke pelbagai milis dan website di Indonesia yang mengakibatkan gerahnya 2 orang dokter rumah sakit tersebut. Prita adalah puncak gunung es kekacauan sistem hukum di Indonesia ini, masih banyak Prita-Prita yang tidak terendus oleh media massa dan masyarakat sehingga terus membeku dalam kegelapan hukum di Indonesia. Ketika keadilan direcehkan merupakan sebuah bentuk konsolidasi rakyat Indonesia yang masih memupuk jiwa sosial yang tinggi yang tak rela saudara sebangsa setanah air mereka dikalahkan dengan tidak berkeadilan dan bernurani.

Bebasnya Prita merupakan hadiah terbesar yang bisa kita jumpai di penghujung 2009 ini, kemenangan rakyat yang diibaratkan seperti lidi yang diikat kuat sehingga menjadi sapu lidi secara moril maupun materiil. Akademisi, blogger, jurnalis, praktisi, semua tumpah ruah membantu Prita melawan ketidakadilan yang diakibatkan sebuah pasal kontroversial, pasal 27 ayat 3 UU ITE. Tak pelak ada yang mengatakan Prita telah melanggar hukum dan bahkan ada yang mengatakan bahwa pemidanaan dengan menggunakan pasal 27 ayat 3 merupakan bentuk pembelaan terhadap negara. Saya tidak habis pikir jika ada yang mengatakan seperti itu, apakah Prita adalah belligerent sehingga harus terlontar “pembelaan terhadap negara” tersebut? Saya rasa tidak perlu berlebihan seperti itu. Dengan kasus Prita ini agaknya masyarakat kita sedikit melek hukum, betapa tidak, analisa terhadap kasus Prita sangatlah banyak di dunia internet, baik dari kalangan akademisi maupun masyarakat awam, tapi dapat kita ambil benang merah, mereka menyatakan simpatinya kepada Prita.

Sebelum kasus Prita ini, sebenarnya telah banyak “korban” atas keanehan pasal 27 ayat 3 UU ITE ini, semuanya dijatuhkan atas dasar menggunakan media internet sebagai media penyebarannya, inilah nama-nama korban pasal 27 ayat 3 UU ITE:

1. Prita Mulyasari, dalam kasus pencemaran nama baik kepada RS Omni Internasional Tangerang

2. Eric Jazier Adriansyah, dalam kasus kesulitan likuiditas dengan penggugat Bank Panin, Bank Bukopin, Bank Artha Graha, Bank CIC, dan Bank Victoria.

4. Narliswandi atau dikenal dengan Iwan Piliang, kasusnya adalah perihal “Hoyak Tabuik Adaro dan Soekanto“.

5. Revrisond Baswir dalam kasus analisa dirinya terhadap SCTV.

6. Luna Maya, kasus yang masih hangat ini menjadikan jerat pasal 27 ayat 3 dikarenakan Luna Maya menggunakan sarkasme terhadap infotainment di jejaring sosial Twitter.

Akan jatuh banyak korban jika pasal tersebut tidak di revisi di masa akan datang, akan banyak Prita-Prita serta Luna Maya-Luna Maya jenis baru yang siap dijadikan tumbal pasal karet ini, apakah kita harus menunggu jeritan korban pasal ini? Bukanlah tindakan bijak jika kita bertindak setelah jatuh korban kembali. Bukankah mencegah lebih baik dari pada mengobati? Semoga kita semua dapat belajar dan mengambil pelajaran dari kasus ini, amiin.

Saya pribadi menyatakan dukungan kepada putusan bebas ini, karena seperti postingan-postingan saya di blog ini, unsur-unsur delik yang didakwakan kepada Prita Mulyasari tidak ada yang memenuhi, baik di dalam rumusan pasal 310, 311 KUHP, serta pasal 27 ayat 3 UU ITE.

Saya ucapkan terima kasih kepada O.C. Kaligis and Associates, terutama kepada mas Slamet yang sudi meluangkan waktunya mengirimkan faksimile surat dakwaan atas kasus Prita Mulyasari beserta seluruh data yang saya butuhkan…suwun yo bos…eh om.. đŸ™‚, kepada pak Adami Chazawi yang telah meluangkan waktunya untuk berdiskusi masalah Prita Mulyasari ini dari perspektif hukum pidana Indonesia, kepada temanku Ruby selaku ahli digital forensic yang dihadirkan dalam sidang yang tentunya bersedia meluangkan waktu untuk share ilmunya kepada tim pengacara Prita mengenai analisa email dari perspektif digital forensic, kepada pak Rudi Rusdiah yang banyak memberikan data baik sejarah maupun pasca lahirnya UU ITE ini dan bersedia memforward data kepada DPR-RI, Pokja MASTEL, dan lainnya

UPDATE!!!! 30 Desember 2009

Tadi malem (29 Desember 2009) pengacara Prita sms bahwa Prita akan di kasasikan oleh jaksa, karena menurut mereka hakim salah menerapkan hukum, sepertinya kasus ini akan berkelanjutan, semoga keadilan tetap di tangan bu Prita.

7 thoughts on “Prita Mulyasari dan Keadilan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s