Posted in Uncategorized

Kerancuan dalam Vonis Antasari Azhar

1. Turut serta menganjurkan

Menyatakan terdakwa Antasari Azhar terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan pidana turut serta menganjurkan pembunuhan berencana…”

Itulah diktum dari putusan majelis hakim terhadap terdakwa Antasari Azhar dalam persidangan dengan agenda pembacaan putusan pada hari Kamis, 12 Pebruari 2010 kemarin. Bagi saya pribadi, di dalam diktum tersebut ada sebuah “keanehan” yang jelas, yaitu pada redaksi “turut serta menganjurkan”.

Di dalam hukum pidana, turut serta atau yang biasa disebut dengan medepleger dan penganjuran atau uitlokker merupakan dua hal yang berbeda. Sebelum kita analisis lebih jauh, ada baiknya kita merujuk pasal yang digunakan dalam kaitannya turut serta dan penganjuran ini, yaitu pada pasal 55  KUHP:

(1) Dipidana sebagai pelaku tindak pidana:
1. mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan perbuatan;
2. mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan, sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan.

(2)   Terhadap penganjur, hanya perbuatan yang sengaja dianjurkan sajalah yang diperhitungkan, beserta akibat-akibatnya. (Pasal 55).

Kalau kita mengacu pada ajaran penyertaan dan penganjuran, maka kita tidak akan menemukan bahwa terdapat delik penyertaan di dalam delik penganjuran. Pada pasal 55, setidaknya ada beberapa pelaku, yaitu yang melakukan (plegen), yang menyuruh melakukan (doen plegen), yang turut serta melakukan (mede plegen), dan orang yang menganjurkan (uitlokken). Ada beberapa syarat di dalam penganjuran, yaitu seperti adanya hubungan sebab akibat, dilakukan dengan cara pada pasal 55 ayat 1, kesengajaan pada upaya tersebut diatas, orang yang melakukan delik tersebut harus mampu bertanggungjawab (tidak gila misalnya), dan orang yang melakukan haruslah telah melakukan apa yang dianjurkan.

Perlu diingat, sangat tidak mungkin orang yang menganjurkan (uitlokker) untuk melakukan delik turut serta karena orang tersebut bukanlah orang yang turut serta melakukan (mede pleger) sebab pembuat peserta setidak-tidaknya haruslah terlibat langsung dalam delik yang mana petindaknya tentu saja dua orang atau lebih. Dengan begitu penganjur atau uitlokker berdiri sendiri, gampangnya begini, penganjuran tidak terlibat secara fisik jadi bisa hanya memberikan cara-cara dan atau saran bagaimana cara membunuh sedangkan turut serta haruslah terlibat secara langsung seperti ikut serta memegangi korban yang akan dibunuh begitu.

Jadi bagi saya, putusan “turut serta menganjurkan” itu adalah janggal ditinjau dari aspek hukum pidana seperti penjabaran diatas.

2. Rekaman dan SMS

Dari pembacaan pertimbangan dalam vonis kemarin, majelis hakim agaknya secara panjang lebar membahas perihal rekaman yang diindikasikan merupakan petunjuk bahwa Antasari Azhar dalang dari pembunuhan Nasrudin Zulakrnain. Majelis hakim memang menjabarkan pertimbangan dari transkrip rekaman yang dibuat oleh ahli yang dihadirkan JPU yaitu ahli Ruby Zukri Alamsyah. Rekaman yang diambil dari handphone nokia E65 milik Nasrudin itu pada awalnya tidak secara jelas dapat diperdengarkan di ruang sidang oleh ahli ad charge kubu Antasari yaitu Aldo Agustian, adapun Ruby Alamsyah menggunakan teknik normalize dan perangkat headset khusus untuk membuka pembicaraan tersebut.

Bagi saya pribadi, rekaman memang boleh dijabarkan di dalam ruang sidang perkara kasus Antasari Azhar kemarin, tetapi juga perlu diingat bahwasannya dalam pembuktian tetap kriteria alat bukti harus tetap merujuk pada KUHAP sebagai landasan beracara pidana di Indonesia, yaitu tetap merujuk pada pasal 183-189 KUHAP, jika merujuk pada ketentuan pasal tersebut maka rekaman tersebut tidak bernilai pembuktian apa-apa dikarenakan tidak termasuk kriteria, kecuali memang dalam delik korupsi dan terorisme yang memberikan ruang untuk hal tersebut seperti yang saya jabarkan pada artikel yang lalu.

Selain rekaman, hal yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah masalah sms yang diklaim oleh JPU bahwa sms ancaman tersebut datang dari kubu Antasari. Di dalam pertimbangannya hakim memang membeberkan dan mebacakan keterangan rekaman secara detail yang diutarakan oleh Ruby Alamsyah dalam persidangan, akan tetapi sangat disayangkan adalah keterangan dari ahli ad charge ITB yang dihadirkan kuasa hukum Antasari Azhar yaitu Dr. Agung Harsoyo tidak diungkit secara panjang lebar padahal keterangan dari ahli Agung Harsoyo tersebut adalah hal yang fundamental.

Kubu JPU sering mengindikasikan akan ancaman yang katanya datang dari Antasari Azhar kepada Nasrudin via sms, akan tetapi di dalam persidangan terungkap bahwasannya sms bisa saja terkirim tanpa sepengetahuan pemilik handphone yang dalam hal tersebut telah dibuktikan oleh ahli Agung Harsoyo di persidangan, selain pembuktian secara langsung perihal sms, ahli Agung Harsoyo juga membacakan CDR (Call Detail Record) dari nomor Antasari Azhar yang tidak ditemukan secuilpun sms kiriman dari nomor Antasari itu.

Keterangan dari ahli Agung Harsoyo setidak-tidaknya haruslah dimasukan ke dalam pertimbangan majelis hakim sebagai keterangan untuk penjatuhan vonis, karena sms tersebut diindikasikan sebagai titik mula indikasi “rencana pembunuhan” (dan yang terpenting adalah rekonstruksi pengiriman sms merupakan fakta persidangan) padahal Pasal 340 merupakan pasal yang dipakai JPU untuk menjerat Antasari Azhar dalam kaitan pembunuhan berencana.

Jika kita mengacu pada standar forensik Internasional tentang alat bukti rekaman dan sebagainnya, maka setidaknya haruslah ada lembaga khusus yang terakreditasi dan tersertifikasi Internasional yang khusus menangani hal itu untuk mencegah terkontaminasinya alat bukti digital dalam kaitan pembuktian di persidangan.

link artikel sebelumnya tentang rekaman dan sms: https://samardi.wordpress.com/2010/01/05/rekaman-dan-sms-dari-sidang-antasari-azhar/

2 thoughts on “Kerancuan dalam Vonis Antasari Azhar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s