Posted in ilmu, Internet, Kerjaan Ofis, masyarakat, Uncategorized

Hak Cipta Program Komputer: Kasus findtoyou.com

Salah seorang sahabat beberapa waktu yang lalu sahabat memberikan saya sebuah tulisan dia berjudul “Plagiatisme dan perlindungan hukum terhadap karya cipta”. Di dalam artikel tersebut, diketengahkan terhadap permasalahan pencurian script dari sebuah website http://findtouyou.com yang dikelola oleh Security Online oleh website http://extremedigger.com yang sudah disuspend oleh penyedia hostingnya. Saya pribadi tidak mengetahui duduk persoalan secara jelas dan lengkapnya bagaimana dan berdasarkan bukti apa (walaupun ada beberapa screenshoot yang diupload ke beberapam forum), tetapi dari artikel tersebut setidaknya saya mendapat gambaran tentang subyek dan obyek yang tengah disengketakan.

Hak atas Kekayaan Intelektual sendiri berarti suatu yang diberikan kepada orang atau pihak yang menghasilkan suatu ciptaan yang bersumber dari pikirannya sendiri. Dalam hal program komputer, tentu saja hasil dari seorang programmer dalam mendayagunakan segala kemampuannya untuk membuahkan sebuah produk dalam bentuk program komputer. Program komputer sendiri merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa dan karena inilah maka hukum memberikan perlindungan. Titik berat pada perlindungan hukum pada program komputer adalah kode-kode yang dapat memberikan instruksi dalam sebuah komputer, dengan demikian inovasi program komputerlah yang sejatinya dilindungi atas nama hukum.

Dengan begitu, kasus ini dimasukkan dalam perlindungan terhadap program komputer di dalam rejim Hak atas Kekayaan Intelektual, dalam bidang Hak Cipta. Hak cipta merupakan salah satu bentuk perlindungan yang cukup ampuh di dunia maya karena sifat perlindungannya bersifat global, tetapi agaknya agak sedikit memberikan masalah tersendiri mengingat dunia maya seorang subyek hukum dapat dengan mudah memperbanyak dan menyebarluaskan suatu karya cipta.  Dalam hak cipta sendiri dikenal adanya beberapa hak yang berkenaan dengan hasil karya tulisan (literaly works), hasil karya musik (musical works), hasil karya drama (dramatic works), hasil karya koreografis (coreographis works), hasil karya seni rupa, film dan audio visual, rekaman suara, dan karya arsitek (architectural works).

Margareth Barrett menggolongkan program komputer sebagai literaly works mengingat sifat dan jenis karya yang dilindungi hak cipta itu tidak bersifat absolut dan tidak menutup adanya kemungkinan terhadap perkembangan baru. Dalam sejarahnya, telah banyak terjadi di dunia Internasional akan payung hukum terhadap hak cipta ini, dapat kita sebut Konvensi Paris 1883 yang menjadi induk dari Konvensi Berne 1886 tentang Protection for Literary and Artistic Works and Industrial Property, Madrid Agreement for the Repression of False or Deceptive Indications of Source on Goods 1891, WIPO Copyright Treaty 1996 dan sebagainnya. Dalam hal hak cipta, selain Konvensi Berne, pada tahun 1971 dibuatlah sebuah konvensi internasional yang mengatur HaKI yang biasa disebut dengan Geneva Convention for the Protection of Producers of Phonograms against Unauthorrisec Duplication of their Phonograms.

Khusus dalam masalah ranah digital, pada bulan Desember 1996 organisasi Internasional yang bernama World Intellectual Property Organization membahas perihal HaKI dengan saran tembak 3 hal, yaitu: Copyright of Electronic Records, Protection of Performers and Producers of Phonograms, and New form of Sui yang biasa disebut dengan Copyrights Treaty. Pada Copyrights Treaty software komputer dan program komputer dimasukan di dalam perlindungan di bawah literary works.

Di Indonesia sendiri, pemberlakuan undang-undang hak cipta dipengaruhi oleh beberapa aturan mulai dari zaman Belanda (Auterswet 1912 dan Konvensi Berne 1886) hingga Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights yang notabene karena Indonesia mengikuti perjanjian multilateral WTO di mana didalamnya dicantumkan perihal agreement tersebut. Pengaturan mengenai hak cipta sendiri dimulai secara resmi setelah kemerdekaan Indonesia dengan diundangkannya Undang-Undang Hak Cipta tahun 1982, Undang-Undang Hak Cipta tahun 1987, lalu Undang-Undang no. 12 tahun 1997, dan terkahir adalah Undang-Undang no. 12 tahun 2002.

Indonesia saat ini sudah meratifikasi konvensi internasional dalam bidang hak cipta dengan Keppres No. 18 tahun 1997 dan dinotifikasikan ke WIPO pada tanggal 5 September 1997 yang mulai berlaku efektif pada tanggal 5 September 1997.

Salah satu contohnya adalah Linux yang dapat dikaji dalam ranah hak cipta. Sebagai operating system yang berbasis open source yang saat ini sedang digalakan di Indonesia ini, karena sifatnya yang free sehingga dapat dikembangkan software secara bebas dan dapat menekan monopoli penciptaan software tertentu. Karena basisnya adalah opensource maka segala bentuk pengembangan dari linux tidak dapat dikenai pidana dan malah jika ada yang menggunakan software secara free ini untuk dikomersilkan, maka hal yang demikian akan mendapat pidana. Baru-baru ini di Uni Eropa terdapat wacana yang akan mengalihkan perihal hak cipta sebuah program komputer menjadi hak paten. Jikalau wacana ini menjadi kenyataan, maka akan mempunyai akibat yang cukup signifikan perihal program opensource seperti Linux ini, karena jika sudah masuk pada ranah hukum paten maka beberapa masalah yang akan timbul adalah mengenai paten proses. Maksudnya adalah piranti open source tidak akan terbebas dari paten software yang dimiliki oleh sebangsa IBM, Windows jika proses pembuatannya menggunakan software yang bersangkutan sebagai suatu mekanisme proses.

Baiklah, ada baiknya setelah kita mengetahui proses akan pembentukan hukum hak cipta, kita segera menuju kepada posisi kasus. Ada beberapa definisi yang perlu kita ketengahkan berdasarkan undang-undang tentang masalah program komputer ini di dalam Undang-Undang No. 19 tahun 2002:

1. definisi hak cipta:

Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku (pasal 1 angka 1)

2. pencipta:

Pencipta adalah seorang atau beberapa orang secara bersama-sama yang atas inspirasinya melahirkan suatu Ciptaan berdasarkan kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahlian yang dituangkan ke dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi (pasal 1 angka 2)

3. definisi program komputer:

Program Komputer adalah sekumpulan instruksi yang diwujudkan dalam bentuk bahasa, kode, skema, ataupun bentuk lain, yang apabila digabungkan dengan media yang dapat dibaca dengan komputer akan mampu membuat komputer bekerja untuk melakukan fungsi-fungsi khusus atau untuk mencapai hasil yang khusus, termasuk persiapan dalam merancang instruksi-instruksi tersebut (pasal 1 angka 8).

Program komputer sendiri berdasarkan pasal 12 ayat 1 telah mendapatkan perlindungan hukum, dengan demikian program komputer dapat dibawa ke ranah hukum manakala terjadi sengketa.

Pada hak cipta, ada sebuah hak ekslusif yang hanya dimiliki oleh pencipta suatu program komputer. Hak ekslusif disini adalah sebuah hak penuh untuk mendistribusikan, mengumumkan, memperbanyak, menyewakan atau tidaknya sebuah program komputer kepada khalayak ramai. Bagi saya pribadi, hak ekslusif tersebut berkekuatan hukum manakala telah di daftarkan di dalam “Pendaftaran Ciptaan” meskipun pendaftaran bukanlah merupakan syarat sahnya suatu hak cipta dan ciptaan atas program komputer. Hak cipta pada hakikatnya telah ada setelah suatu ciptaan (dalam hal ini program komputer) telah selesai pengerjaannya.

Pendaftaran sendiri menyangkut aspek pembuktian dimuka hukum terhadap suatu karya, ciptaan yang tidak didaftarkan akan sulit dan memakan waktu lama dalam hal pembuktian. Ciptaan yang telah didaftarkan akan lebih mudah mengidentifikasikannya dan akan lebih mudah jika suatu saat terjadi pengalihan hak cipta karena tentu saja ada prosedur tertulisnya (lihat pasal 5 Undang-Undang no. 19 tahun 2002). Apabila programer tidak dapat membuktikan bahwa program komputer yang ia dakwakan adalah karya cipta dirinya, maka bisa jadi hal itu menjadi senjata makan tuan, karena pihak terlapor dalam melakukan gugat balik atas pelaporan tersebut yang menyebabkan pelapor justru yang dapat dipidana.

Pada ranah internet sendiri, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik sebagai lex specialis terhadap Undang-Undang Hak Cipta ini memberikan pula perlindungan terhadap hak cipta yang telah di daftarkan:

Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang disusun menjadi karya intelektual, situs internet, dan karya intelektual yang ada di dalamnya dilindungi sebagai Hak Kekayaan Intelektual berdasarkan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. (Pasal 25)

Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang disusun dan didaftarkan sebagai karya intelektual, hak cipta, paten, merek, rahasia dagang, desain industri, dan sejenisnya wajib dilindungi oleh Undang-Undang ini dengan memperhatikan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. (Penjelasan pasal 25)

Pada proses pembuktian, setidak-tidaknya pada persidangan, alat bukti haruslah memenuhi standar kriteria pasal 184 KUHAP, dan jikalau secara konsisten pasal ini dipakai, maka programer yang tidak dapat menunjukan bukti tertulis berupa surat atas hak cipta yang didaftarkan dan dapat menghadirkan alat bukti petunjuk, maka akan sangat sia-sia dalam menggugat yang dianggap sebagai plagiat tersebut dan dapat digugat balik seperti yang telah saya jabarkan diatas.

Dalam kasus ini, pihak findtoyou.com haruslah dapat memberikan bukti-bukti berupa surat atas pendaftaran sebagai bukti bahwa hak ciptaannya telah resmi di daftarkan, ip adress dari pihak yang mencuri dan atau mengopy program tersebut, log dan script orisinil yang diajukan sebagai bukti dari pihak pelapor dan script dari pihak terlapor yang diklaim dari ciptaan pelapor, dan yang paling penting adalah pc dan sarana yang digunakan untuk membuat program tersebut karena terkait analisa digital forensik. Jikalau pihak findtoyou.com tidak dapat menghadirkan setidaknya beberapa bukti-bukti diatas, maka pihak dari extremedigger.com dapat melakukan gugat balik karena hal ini sudah tersebar luas dibeberapa forum security internet dan menganggap hal itu sebagai pencemaran nama baik serta fitnah. Saya sendiri lebih menyarankan agar kedua belah pihak saling menggunakan upaya damai terlebih dahulu, mengingat ada etika dalam berinternet, etika dalam menyebarluaskan suatu karya, etika dalam menggunakan suatu karya.

3 thoughts on “Hak Cipta Program Komputer: Kasus findtoyou.com

  1. mumuet……..tapi setau saia linux itu open source thok, bukan free source. bedanya kalo kita beli maka kita dapat sourcenya, tapi source yang sudah kita kembangkan boleh dijual. sampai saat ini linux yang beredar masih banyak versi beta. karena yang aseli bayar

  2. *napak tilas*
    Yang aLe tanyakan, beli buku/kamus KUHP itu ada ta?
    Penasaran ma pasal² kendaraan bermotor neh.
    *balik ke milis*

  3. jadi inget film pirates of silicon valley nh..

    xerox dibajak aple, trus aple dibajak windows..

    sah g klo bnyk yg ngbajak windows….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s