Posted in Diary, ilmu, Internet, masyarakat, Uncategorized

Ary Muladi: Tokoh Kontroversial dalam kasus Bibit-Chandra

Publik mungkin sudah tidak asing dengan sosok Ary Muladi ini. Dia dianggap sebagai tokoh kunci dalam perseteruan kasus “Cicak vs Buaya” beberapa waktu lalu. Peran dia dalam kasus ini dianggap sebagai makelar kasus dan perantara antara pihak Anggoro dan Anggodo Widjodjo dengan pihak KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Bermula dari diperdengarkannya rekaman intersepsi KPK di dalam sidang Mahkamah Konstitusi yang diindikasikan oleh Bibit dan Chandra sebagai pemohon terhadap upaya kriminalisasi mereka, sosok Anggodo mencuat bak artis. Seiring berjalannya waktu dan berdasarkan keterangan Anggodo, ada beberapa pihak yang berhubungan dengan kasus ini seperti: Ary Muladi, Ade Rahardja, Edi Sumarsono dan beberapa nama lainnya.

Jika kita teliti mengamati kasus ini, ada beberapa keganjilan terkait SKPP, proses hukum Bibit-Chandra, dan terkait keterangan-keterangan didalam BAP. Ary Muladi di dalam keterangannya di berbagai media mengakui bahwa dia menerima dana dari pihak Anggodo untuk diteruskan kepada pimpinan KPK sebagai “pelicin” untuk membantu masalah PT. Masaro milik Anggoro. Awalnya adalah ketika KPK menggeledah PT. Masaro yang kemudian Anggodo menelepon Ary Muladi untuk menanyakan kepada KPK dasar penggeledahan tersebut karena Ary Muladi mengaku mengenal salah satu pejabat KPK, yaitu Ade Rahardja (Direktur Penindakan KPK) dari situlah menurut pengakuan Ary Muladi dalam BAP tertanggal Sabtu, 11 Juli 2009.

Selanjutnya pada tanggal 15 Juli 2009,  Ary Muladi dan Anggodo membuat kronologis kasus tersebut , seperti yang tampak pada gambar berikut:

Krnologi
Salah contoh satu Kronologi yang penulis tampilkan
kronologis
Kronologis

Di dalamnya dijelaskan bahwasannya karena Ary Muladi lupa tanggal penyerahannya, maka dibuatlah kronologis terhadap uang yang dianggap sebagai pemerasan dari pimpinan KPK terhadap pihak Anggoro. Dari keterangan BAP tersebut, memang secara jelas Ari Muladi menyatakan bahwa uang tersebut diserahkan kepada KPK via Ade Rahardja sebagai teman dari Ari Muladi. Hal itu sangatlah berbeda dengan pengakuan Ary Muladi kepada publik di mana awal mula pemerikasaan di kepolisian karena kronoligis yang dibuat oleh dirinya bersama Anggodo Widjodjo, padahal kenyataannya jauh sebelum kronologis dibuat.

Ada setidaknya beberapa keterangan dalam kronologis tersebut tentang bagaimana tata cara pemberian “tip” terhadap pimpinan KPK seperti yang tertera di dalam kronologis di depan penyidik:

Kronologis
Kronologis dari Ary Muladi bertemu Ade Rahardja

Kronologis selanjutnya adalah ketika pada tanggal 15 Agustus 2008 dan 19 Agustus 2008, Ary Muladi  bertemu dengan Bibit Samad Riyanto beserta Ade Rahardja dengan memberikan “uang” perdamaian atas kasus PT. Masaro:

kronologis
Penyerahan di Pasar Seni

Bukti-bukti terhadap kasus ini diantaranya adalah:

  1. Tanda terima dari Ary Muladi terhadap Anggodo Widjodjo sebesar US$ 404.600, 11 Agustus 2008
  2. Tanda terima dari Ary Muladi terhadap Anggodo Widjodjo sebesar US$ 124.920, 13 Pebruari 2009
  3. Copy passport Anggodo Widjodjo
Bukti
Surat Tanda Terima bukti

Beberapa tokoh KPK sepeti M. Jasin, Bibit Samad Riyanto, dan Bambang Widaryatmo  juga disebutkan oleh Ary Muladi terkait penyerahan uang tersebut. Menurut Ary Muladi, atas perkataan Ade Rahadrja, Ary Muladi memberikan uang tersebut terhadap penyidik KPK yang selanjutnya akan diberikan demi selesainya permasalahan PT. Masaro tersebut.

9. Penyidik menunjukan foto M. Yasin yang diambil dari Website KPK (www.kpk.go.id pada profil Pimpinan yang dibrowsing pada tanggal 11 Juli 2009). Foto BAMBANG WIDARYATMO, BIBIT S RIANTO, dan foto ADE RAHARDJA kepada saksi (ARI MULADI), ditanyakan apakah orang-orang yang berada dalam foto tersebut adalah orang-orang yang bertemu saudara dalam penyerahan uang terkait kasus PT. MASARO?

Ya orang-orang yang ada pada foto yang ditunjukan Penyidik  itu adalah orang-orang yang bertemu saya dalam rangka penyerahan uang terkait PT. MASARO yang ditangani KPK.

Tidak hanya itu saja ternyata, Ary Muladi dalam dialognya dengan Antasari Azhar yang saat itu berada di Malang, juga sempat membahas perihal kasus PT. Masaro ini, dan anehnya justru pertanyaan tentang kasus tersebut terlontar dari pertanyaan Antasari Azhar kepada Ary Muladi:

12. Jelaskan! Apakah sekitar bulan April 2009, saudara pernah bertemu dengan ketua KPK (ANTASARI AZHAR) ? Bagaimana cara saudara dapat bertemu dengan ANTASARI AZHAR, dimana bertemunya, kapan dan apa yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut ?

Ya, pada sekitar bulan April 2009, saya pernah bertemu dengan ketua KPK (ANTASARI AZHAR) di Hotel Tugu Malang. Seingat saya pada waktu itu yang mengenalkan saya kepada ANTASARI adalah EDDY SUMARSONO. Dalam pertemuan tersebut ANTASARI menanyakan kepada saya perihal kronologis kejadian para wakil ketua KPK yang meminta uang untuk menyelesaikan perkara yang berhubungan dengan PT. MASARO. Pada waktu itu saya ceritakan semuanya kepada ANTASARI AZHAR dan ANTASARI hanya mengatakan “O iya-ya”

Pada pengakuan selanjutnya kepada publik, ternyata penyerahan uang tersebut di bagi beberapa bagian, dan ada yang ditujukan khusus terhadap Chandra Hamzah selaku ketua KPK. Ary Muladi tertanggal 20 Agustus 2009 memberikan keterangan tertulis terkait tanda terima menyerahkan uang terhadap Chandra Hamzah melewati perantara Yuliant0 sesuai dengan pernyataanya yang dia tanda tangani sendiri:

KPK_CASE
Pernyataan bahwa penyerahan uang melalui Yulianto

Pada tanggal 20 Agustus 2009  Ary Muladi diperiksa kembali terkait kasus tersebut. Dalam pemeriksaan kali ini, penyidik menggunakan bantuan ahli polygraph dan lie detector untuk mengetahui apakah Ary Muladi berbohong ataukah tidak.  Berdasarkan BAP bernomor No.2382/FSF/2009 dan menurut keterangan ahli Ir. Lukas Budi Santoso, diindikasikan bahwasannya Ary Muladi berbohong dengan memunculkan tokoh yang bernama Yulianto, dengan mengacu pada keterangan ini, bahwa BAP tertanggal 11 Juli 2009 dan 15 Juli 2009 adalah benar.

Indikasi penipuan dan pemerasan ini diungkapkan sendiri oleh Ary Muladi di dalam BAPnya tertanggal 11 Juli 2009 pada poin nomor 14. :

14. Apakah ada keterangan lain yang ingin sdr. Sampaikan dan berikan kepada penyidik ?

Ya, saya akan meminta pertanggungjawaban dari pak ADE RAHARDJA dan para pimpinan KPK yang telah menerima penyerahan uang dari saya atas janji-janji yang telah disampaikan atau diberikan kepada saya. Karena sebenarnya saya dan teman saya merasa terpaksa untuk memberikan dana yang begitu besar dan saya sudah merasa ditipu oleh pak ADE RAHARDJA dan Para Pimpinan KPK tersebut.

Jika kita berpedoman pada keterangan tersebut diatas, memang sangat besar diindikasikan bahwasannya Chandra Hamzah dan Bibit S. Rianto dapat dikatakan melakukan tindak pidana korupsi, terkait bagaimana proses hukumnya, sebaiknya memang hal ini di bawa ke ranah pengadilan mengingat SKPP yang diberikan oleh Kejaksaan adalah cacat hukum karena tidak beradasarkan atas pasal 140 ayat 2 (a) yang mana SKPP baru dapat diberikan atas 3 unsur yaitu: bukan merupakan tindak pidana, belum cukup bukti, dan batal demi hukum, dan kasus Chandra-Bibit ini tidak memenuhi unsur-unsur di dalam pasal tersebut.

4 thoughts on “Ary Muladi: Tokoh Kontroversial dalam kasus Bibit-Chandra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s