Posted in cybercrime, ilmu, Internet, masyarakat

Video Porno Mirip Artis dan Serba-serbinya bag. 2

Sudah lewat 2010 persidangan video mirip artis disidangkan dan telah melewati agenda sidang penuntutan. Salah satu alat bukti menurut Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (selanjutnya disebut KUHAP) adalah keterangan ahli, sebelum masuk kepada keterangan ahli, mari kita merujuk pasal 184 ayat 1 KUHAP sebagai berikut:

Alat bukti yang sah ialah:

a.keterangan saksi;

b.keterangan ahli;

c.surat;

d.petunjuk;

e.keterangan terdakwa.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada dosen-dosen senior serta praktisi hukum yang telah puluhan tahun melanglang buana praktik beracara, saya tidak menerima sepenuhnya penyebutan “saksi ahli”. Kembali ke pokok permasalahan, di dalam KUHAP tidak disebutkan perihal kriteria seorang ahli, hanya disebutkan apa yang ahli ketahui berdasarkan pengetahuannya.

Beberapa ahli diminta kepersidangan, baik ahli a charge maupun ahli ad charge:

Ahli a charge yang hadir dipersidangan sebagai berikut:

  1. Afdol Malan, Fakultas Hukum Universitas Indonesia dalam bidang hukum adat
  2. Amirsyah Tambunan, Wasekjen Majelis Ulama Indonesia
  3. Anton Castilani, forensik dari Mabes Polri
  4. Budhi Haryanto, penyidik dari Mabes Polri
  5. Hadi Supeno, Komisi Perlindungan Anak Indonesia
  6. Menhariq A. Noor, dari Kementrian Komunikasi dan Informatika
  7. Neng Djubaedah, dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia terkait Pornografi
  8. Ruby Zukri Alamsyah, analis forensik digital.

Sedangkan ahli ad charge, menghadirkan:

  1. Jisman Siregar, dari Fakultas Hukum Universitas Parahyangan
  2. Tamrin Amal Tamagola
  3. Zoya Amirin, dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Di dalam kasus video mirip artis kemarin, terdapat keterangan ahli yang cukup kontroversial dan memicu ketegangan karena bernuansa SARA, yaitu keterangan dari ahli Sosiologi Tamrin Tamagola. Sebenarnya keterangan beliau tidak menjadi kontroversi andaikata media tidak mengutip sepotong, berikut adalah kutipan salah satu media:

Thamrin melanjutkan, kalaupun Ariel melakukan seks di luar nikah, tidak semua masyarakat beranggapan itu salah. Oleh karena itu ia berpendapat jika Ariel lebih pantas ‘diadili’ sesuai norma masyarakat.

“Tergantung masyarakat yang mana? Buat masyarakat Dayak, Mentawai, Bali, ini tidak heboh. Yang heboh sekarang itu generasi tua, dan biarkan masyarakat yang mengurus bagaimana baiknya kasus Ariel ini,” tambahnya.

Tamrin Amal Tomagola memberikan keterangan ahli yang meringankan bagi Ariel. Setelah selesai sidang, dia ditanya oleh wartawan dan menjawab seperti yang disebut diatas. Beberapa saat setelah dia memberikan keterangan ahli tersebut, muncul kontroversi dan ketegangan di masyarakat suku Dayak. Merasa berang dengan statemen “bersenggama tanpa ikatan”, beberapa wadah suku Dayak di Kalimantanpun mensomasi Tamrin.

Melihat ketegangan itupun, melalui surat elektronik, Tamrin melakukan klarifikasi kepada Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) melalui jejaringnya:

From: Martin goro-goro <tamrinat@…>
Date: Fri, 7 Jan 2011 08:32:03
To: <abdon.nababan@…>
Subject: Bls: permohonan maaf dan klarifikasi sosiolog Tamrin Amal Tomagola

Kepada Seluruh saudaraku warga masyarakat Dayak yang saya hormati,

Pertama-tama dan yang paling utama dengan segala kerendahan hati saya memohon
maaf yang sedalam-dalamnya telah menyinggung kehormatan warga Dayak dan
adat-istiadatnya yang mulia. Sebagai penjunjung asas bhinneka tunggal ika saya
berupaya bersama-sama banyak teman senusantara untuk memuliakan asas kebhinekaan
sampai kapanpun.

Kedua, saya berkewajiban untuk mengklarifikasi apa yang sesungguhnya terjadi dan
terucapkan dalam kesaksian saya di peengadilan kasus Ariel di Bandung, 30
Desember yang lalu. Adalah saya yang menawarkan diri lewat suatu acrara di TV
One untuk menjadi saksi ahli yang meringankan. Tawaran itu saya berikan karena
menurut pendapat saya, kasus Ariel itu menyangkut hak-pribadi dasar warganegara.
Dengan bersaksi saya ingin menegakkan prinsip-prinsip dasar dalam hidup
bermasyarakat dan bernegara-bangsa. Karena saya menolak imbalan dalam bentuk
apapun untuk kesaksian yang saya berikan. Keluarga Ariel pernah menawarkab
‘fee’, akomodasi dan transportasi. Semuanya saya tolak.

Dalam kesaksian saya, saya menekankan tiga nilai fundamental: kemajemukan,
toleransi dan penghormatan atas keunikan suatu budaya. Selama hampir 1 jam saya
berupaya meyakinkan majelis hakim tentang penjunjungan ketiga nilai fundamental
itu. Hakim Ketua, meminta contoh konkrit. Saya lalu mengacu pada temuan
penelitian kualitatif saya sewaktu menjadi konsultan di Depertemen Transmigrasi
tahun 1982-1983. Pennelitian kualitatif saya lakukan di Kalimantan Barat dan
Papua Selatan. Pada masing-masing lokasi saya melalukan wawancara mendalam
dengan 10 ibu-ibu usia subur sebagai informan saya.

Kepada majelis hakim saya tegaskan bahwa atas dasar hanya 10 informant, temuan
saya samasekali tidak dapat digeneralisasi terhadap semua puak dan warga Dayak.
Paling banter, temuan itu hanya sebagai petunjuk-petunjuk sementara yang masih
perlu diuji lagi.

Sewaktu berhadapan dengan wartawan di laur sidang, dengan bertubi-tubinya
pertanyaan wartawan, saya samasekali tidak sempat menjelaskan secara detail
seperti yang saya kemukakan di ruang sidang pengadilan. Saya sangat menyesal
tidak menyiapkan penjelasan tertulis untuk dibagikan pada wartawan. Akhirnya
yang termuat di media adalah kutipan sepotong-sepotong yang ‘out of context’.

Sangat dapat dimengerti bila saudara-saudara saya warga Dayak sangat tersinggung
dan marah oleh pemberitaan seperti.

Saya sungguh-sungguh menyesal telah menimbulkan amarah, yang wajar dari seluruh
warga masyarakat Dayak, dan untuk itu, sekali saya memohon maaf yang
sebesarnya. Saya belajar banyak dari kesalahan ini dan berjanji pada diri saya,
khususnya kepada seluruh warga masyarakat Dayak, dan umumnya kepada semua warga
masyarakat adat nusantara, untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa
depan.

Semoga semua kita tetap rukun dan damai dalam kebhinnekaan nusantara kita.

Salam kebhinnekaan,

Tamrin Amal Tomagola

Klarifikasi tersebut merupakan klarifikasi yang dikirimkan Tamrin kepada AMAN terkait statemennya di persidangan video mirip artis.

7 thoughts on “Video Porno Mirip Artis dan Serba-serbinya bag. 2

  1. ya, masukan bwt nanti ‘saksi2 ahli’ pada sidang sensitif seperti ini siapkan bahan utk jawab pertanyaan wartawan atau jawab no komen saja

  2. sebaiknya ini masuk pasal bikin onar atau huru hara saja, karena hanya bikin onar dan semua mengonarkan perspektifnya masing-masing, justru UU Perkawinan nggak dipake padahal yang ditonton jelas-jelas orang kawin katanya (karena sy tidak mau lihat)

  3. nah… hukum adat dari masyarakat. dari pada sidang g usai usai, malah kadang kepikitang. kenapa cuma yang tersangka cowok ya yang terus di usut? apa karena kita berterima kasih karena si co salah satu tokoh yang memberikan kita tontonan tubuh artis cewek yang aduhai itu? padahal kan mereka sama-sama menikmati… kenapa cuma satu orang tersangka aja yang kena? emang nya si co hemaprodit..?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s