Posted in cybercrime, ilmu, Internet

Kejahatan Konvensional vs Cybercrime

Kemarin sore saya membongkar lemari buku di gudang tidak sengaja menemukan buku karya Andi Hamzah yang berjudul Aspek-aspek Pidana Dibidang Komputer. Buku ini merupakan buku pertama di Indonesia yang membahas tentang cybercrime dan merupakan buku rintisan pengkajian cybercrime saat ini. Andi Hamzah dalam bukunya tersebut berusaha mencari rumusan yang tepat dari sisi aspek hukum pidana Indonesia dan membandingkannya dengan beberapa bentuk cybercrime saat itu.

buku

Beberapa kejahatan dengan media komputer saat itu yang dibandingkan dengan rumusan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (selanjutnya disebut KUHP) oleh Andi Hamzah adalah sebagai berikut:

  1. Joycomputing, disetarakan dengan perbuatan mencuri pada Pasal 362 KUHP
  2. Hacking, disetarakan dengan perbuatan memasuki area orang lain tanpa ijin pada Pasal 167 KUHP dan 551 KUHP.
  3. The Trojan Horse, disetarakan dengan perbuatan penggelapan pada Pasal 372 KUHP & Pasal 374 KUHP.
  4. Data Leakage, disetarakan dengan perbuatan membocorkan rahasia negara pada Pasal 112 KUHP, Pasal 113 KUHP, Pasal 114 KUHP; rahasia perusahaan pada Pasal 322 KUHP dan Pasal 323 KUHP.
  5. Data Diddling, disetarakan dengan pemalsuan surat pada Pasal 263 KUHP.

Beberapa kajian oleh Andi Hamzah tersebut diolah dari ceramah umum N. Keyzer yang berjudul Hukum Pidana Belanda dan Penyalahgunaan Komputer. Sepintas jika kita melihat kajian oleh sarjana hukum masa lampau maka beberapa rumusan dari cybercrime kurang tepat, seperti kegiatan hacking (yang sebenarnya bersifat umum), aktivitas dari Trojan Horse dalam sebuah sistem komputer dikarenakan keterbatasan sumber informasi dan perkembangan teknologi dan informasi yang belum berkembang luas saat itu.

Seiring dengan perkembangan zaman, maka beberapa tipe kejahatan tidaklah berubah 180 (seratus delapan puluh) derajat. Perubahan dan perluasa hanyalah terletak pada sarana dan prasarana. Untuk lebih jelasnya mari kita lihat klasifikasi modern tentang dasar-dasar cybercrime berikut ini:

1
2

Berdasarkan gambaran umum diatas, perbedaan antara kejahatan konvensional dengan cybercrime hanyalah terletak pada media yang tadinya berdasarkan sarana dan prasarana umum biasa menuju kepada era digital. Sayangnya di Indonesia sendiri ketidaksiapan aparat penegak hukum dalam mengungkap suatu kejahatan “gaya baru” ini menjadi kerikil, sebut saja beberapa kasus pasca rezim Cyber Law Indonesia yaitu kasus Prita Mulyasari, kasus Ariel Peterpan, dan kasus defacing beberapa website dimana aparat penegak hukum menjadi ibarat orang yang ditampar oleh aturan yang harusnya mereka tegakkan.

_____

1 dan 2. Haking – IT Security Magazine : Is DDOS still a threat?  tanggal 18 Mei 2010.

2 thoughts on “Kejahatan Konvensional vs Cybercrime

  1. aparatnya orang-orang jadul yang enggan mengikuti perkembangan teknologi. jadi ya kalang kabut. hehehe…

    salam kenal, bung!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s