Posted in Diary, Internet, masyarakat

#Oblong Mini: Kebebasan Berekspresi di Internet

Tanggal 3 September 2011 lalu Bloggerngalam mengadakan kopdar halal bi halal sekaligus melaksanakan agenda Oblong (Obrolan Bloggerngalam) Mini. Kali ini tema yang diusung adalah tentang kebebasan berekspresi di Internet dengan studi kasus Prita Mulyasari. Mengapa mini? karena jika agenda Oblong biasanya membahas tema-tema yang “berat” namun santai dengan peserta seluruh warga Malang Raya, kali ini hanya konsolidasi intern Bloggerngalam.

Sahabat saya yang juga merupakan ketua tim pengacara Prita Mulyasari dari OC Kaligis and Associates, Slamet Yuono, saya dapuk untuk menjadi pembicara yang santai tersebut. Dia menceritakan bagaimana asal mula kasus Prita Mulyasari hingga tahap peninjauan kembali (PK) yang saat ini berlangsung. Menurut Slamet, saat ini aparat penegak hukum dapat dikategorikan “gaptek” sehingga kepastian hukum sebagai tujuan keadilan akan susah tercapai.

Minimnya pengetahuan aparat penegak hukum tentang internet juga menjadi kendala yang cukup serius mengingat kasus Prita Mulyasari merupakan kasus pertama dan cukup mendapat sorotan publik pasca rezim cyber law Indonesia. Kasus Prita Mulyasari ini dapat menjadi perseden buruk carut-marutnya penegakan hukum di Indonesia.

Blogger sebagai penggiat informasi dapat terkena pasal 27 ayat 3 UU ITE ketika mempublikasikan karyanya dalam bentuk artikel dalam blognya jika tidak mengetahui apa saja larangan yang tertera dalam UU ITE. Dengan demikian Blogger mau tidak mau harus faham apa isi dari UU ITE karena akan bersinggungan langsung dengan kegiatan mereka ketika berinternet.

Slamet Yuono (OC Kaligis and Associates)

Setelah ajangan Oblong Mini, maka tibalah saat kongkow-kongkow. Kebetulan Dani “xnuxer” Firmansyah juga hadir dalam acara Oblong Mini kemaren. Sudah dapat ditebak pasti obrolan kami bertiga tidak akan jauh dari intersepsi, anti interseptor, sampai sniffing server. Obrolan dimulai dengan masalah intersepsi oleh “pihak yang mempunyai kewenangan” kepada para advokat. Hal ini lumrah terjadi saat ini, apalagi jika advokat tersebut sedang memegang kasus yang cukup “panas”. Untuk menanggulanginya maka saran saya kepada Slamet hendaknya kantor  mereka dipasang hardware anti interseptor dan handphone mereka masing-masing dipasang juga softwareyang sama seperti yang saya tunjukan kemarin kepada dirinya.

Menginjak agak malam, obrolan kembali hangat, tentang hacking dan bagaimana rumusannya dalam UU ITE yang sedikit banyak dipengaruhi oleh Convention of Cybercrime Uni Eropa. Lagi-lagi kendala yang dihadapi adalah belum siapnya aparat penegak hukum untuk menindak kasus cybercrime seperti hacking, fraud, bahkan spamming.

Foto Bareng

Keterangan foto dari belakang kiri ke kanan: Hanifa dan pacarnya, Dani “Xnuxer” Firmansyah, gue, Slamet Yuwono (ketua tim pengacara Prita Mulyasari), Faizal, Sandy Suryadinata, Yaniko Dimas. Depan kiri ke kanan: pacarnya Nicodemus, Ratih A. Diah, Muhammad Fauzil Haqqi, Reza Ariefanda, Mutiara Aisyah, Arlingga, Isdah Ahmad, Devi Eriana, NengBiker

Tak terasa hari sudah larut malam, maka obrolanpun mau tidak mau harus berhenti karena jam sudah menunjukan pukul 21.00 WIB dan dikarenakan Slamet dan Dani harus segera pulang karena ada urusan keluarga.

Foto: Kaitou Kuroba dan Yaniko

3 thoughts on “#Oblong Mini: Kebebasan Berekspresi di Internet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s