Posted in Diary, masyarakat

Pulsa Berkurang?

Tadi malam saya, Ruby Alamsyah, dan Edmon Makarim berdiskusi mengenai sms yang konon katanya menyedot pulsa para pelanggan telepon seluler. Perbincangan diawali dengan mengetengahkan masalah cara pulsa yang berkurang ketika melakukan registrasi atau bahkan tidak regitrasi terhadap suatu layanan konten dari operator. Media massa memberikan ilustrasi tentang korban dari salah operator yang merasa dirugikan karena merasa tidak pernah melakukan langganan terhadap konten tertentu dari operator.

Perbuatan dari penyedia konten atau oprator yang seperti ini apakah dapat dilakukan tindakan hukum, mengingat dari sisi konsumen terhadap hal yang merugikan dari segi materiil. Apakah perbuatan tersebut dapat dikatakan pencurian? penggelapan? penipuan?, data interference? atau delik yang bagaimana? Pertama-tama adalah penyamaan persepsi terlebih dahulu bahwa pulsa adalah informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik.

Ruby menjelaskan bahwa tidak bisa dikatakan pukul rata bahwa tindakan pulsa yang tiba-tiba lenyap tersebut sebagai pencurian karena ada beberapa modus. Modus pertama memang ada orang yang sengaja mempunyai niat untuk menipu pelanggan seluler, diantaranya dengan melakukan broadcast sms kepada pelanggan seluler untuk melakukan transfer sejumlah uang, dan biasanya pelaku kejahatan ini mengaku sebagai operator telekomunikasi tertentu yang mengabarkan bahwa korban telah memenangkan kuis dan program dari operator tersebut.

Modus kedua hilangnya pulsa adalah seorang pelanggan baik secara sadar atau tidak mengikuti atau berlangganan konten yang disediakan oleh operator seluler atau pihak ketiga, bahkan ada pelanggan yang merasa tidak melakukan registrasi atau berlangganan tiba-tiba pulsa terpotong karena diikutkan oleh operator tersebut atau pihak ketiga. Modus-modus yang lain seperti social engineering data pelanggan untuk diperjualbelikan sehingga data pelanggan dapat diketahui dan dilakukan penipuan.

Selanjutnya Edmon Makarim berbicara mengenai konsep hukum dari “hilangnya” pulsa pelanggan (dengan melihat pemeritaan media). Kalau paradigmanya adalah ketika pulsa dari pelanggan itu hilang dan dianggap pencurian, maka harus dilihat terlebih dahulu bagaimana konteksnya. Agak susah memang mengatakan bahwa hal itu termasuk pencurian, karena awalnya paradigmanya pencurian biasanya mengambil untuk menjadi pemilik, jika dibawa ke ranah elektronik yangg dilihat adalah dalam konteks intangible asset maka pendekatannya kepada data itu sendiri.

Lalu saya menjabarkan delik pencurian dari KUHP Indonesia yang berbunyi sebagai berikut:

Barangsiapa mengambil sesuatu barang yang sama sekali atau sebagian termasuk kepunyaan orang lain, dengan maksud akan memiliki barang itu dengan melawan hukum, dihukum karena pencurian, dengan hukuman penjara selama-lamanya lima tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp 900.

Berdasarkan bunyi pasla tersebut, maka menurut saya akan timbul beberapa permasalahan, siapakah yang mengambil atau kepada apa/siapa barang tersebut berpindah?. Kalau ditafsirkan lebih luas, pengiriman sms kemudian berdampak kepada berubahnya data pulsa kalau dianggap sebagai properti seseorang kemudian diambil nilai ekonomisnya tanpa seizin pelanggan maka boleh saja orang melihat sebagaimana layaknya pencurian, kalau konsekwensi tindakan tersebut sudah dijelaskan sebagai suatu transaksi maka tidak dapat dikatakan sebagai pencurian. Hanya saja transaksinya didasarkan atas kekhilafan dengan sendirinya dapat dimintakan pembatalan.

Kalau melihat kondisi kerugian konsumen seperti itu, maka sebagai pelanggan seluler dapat menggunakan haknya sebagai konsumen yang dirugikan oleh operator atau pihak ketiga menggunakan Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Perubahan data pulsa pelanggan, sebenarnya dapat dikatakan sebagai data interference, sehingga UU ITE dapat berlaku dalam kasus ini, tetapi tergantung konteks perbuatan materiilnya bagaimana. Treatment prabayar dianggap konsumen telah memiliki usmg yang dikonversi dengan nilai pulsa, jadi jelas keberadaan “barang”nya tetapi kalau pasca bayar pulsa tidak dapat dipersepsikan sebagaimana layaknya barang tetapi lebih kepada services karena bentuknya tagihan jasa berlangganan.

Sementara ini, benang merahnya adalah berubahnya data pelanggan, yaitu dalam bentuk pulsa. Seperti dijabarkan pada awal pembahasan, bahwa pulsa menurut sifatnya termasuk dalam kategori informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik sehingga data dikatakan jika data tersebut berubah dengan sengaja dan tanpa hak oleh pihak tertentu, maka termasuk dalam kategori data interference.

Dalam UU ITE hal itu terdapat pada Pasal 32 jo  yang berbunyi sebagai berikut:

Pasal 32

(1)    Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apa pun mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak, menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik milik Orang lain atau milik publik.

(2)    Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apa pun memindahkan atau mentransfer Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik kepada Sistem Elektronik Orang lain yang tidak berhak.

(3)      Terhadap perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang mengakibatkan terbukanya suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang bersifat rahasia menjadi dapat diakses oleh publik dengan keutuhan data yang tidak sebagaimana mestinya

Pasal 48

(1)    Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).

(2)    Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun dan/atau denda paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

(3)    Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

Waktu telah menunjukan pukul 00.03, sehingga perdiskusian dihentikan karena keesokan harinya pekerjaan dan kegiatan peerkuliahan menanti, perdiskusian diatas berhenti pada data interference, dan mungkin akan dilanjutkan kemudian hari. Perlu diingat bahwa dalam perdiskusian itu masih berdasarkan pendapat pribadi, belum merujuk pada analisis kasus yang sesungguhnya, dalam artian ketika kasus sudah memasuki proses hukum.

12 thoughts on “Pulsa Berkurang?

  1. wah, diskusinya belum selse sih….

    yg menarik didiskusikan sebenernya langkah/tindakan apa yang bisa diambil untuk para CP yang kurang ajar itu?

    1. Kalau tindakan untuk diri kita sendiri sih, gak usah meladeni perintah dari sms yang nomernya gak kita kenal, kalo ada unsur operator turut membuat pulsa kita tersedot, class action tuntut saja

      1. bagaimana CP bisa menjadikan pulsa itu supaya bisa menjadi uang (secara fisik)? Rasa2nya proses pengubahan pulsa biar bisa jadi uang itu tetap gak bisa lepas dari peran operator. Karena CP bisa dapet uang setelah jumlah pulsa yang diperoleh bisa ditukarkan dengan operator.

        Kecuali kalo CP itu mainan jualan pulsa elektronik, mungkin dia bisa meraup uang secara fisik dari hasil jualan pulsanya.

        jadi, kalo dilogika sederhana, secara langsung ataupun tidak operator sebenarnya turut berperan serta dalam proses penyedotan pulsa ini.

    1. Class action itu kan timbul karena kerugian yang berjamaah dari pelanggan, nah kumpulken saja pelanggan yang merasa rugi karena layanan tersebut, dan perwakilan dari para pelanggan tersebut melakukan gugatan

  2. sebenarnya pencurian pulsa itu didasari atas kelengahan konsumen terhadap iming2 hadiah dan berbau Social Enginering.
    Misalnya SMS yg sering masuk Inbox saya….

    “Menangkan 50 Tiket Konser WESTLIFE. HUbungi *121*148# sekarang juga”

    Kalimat diatas adalah soceng yg digunakan oleh provider, dengan iming2 hadiah.
    Nah kode *121*148# adalah kode untuk mengaktifkan kontent premium.
    *121# adalah short code layanan premium.
    dan 1, 4, 8 adalah menu yg tersedia pada layanan itu.

    Jadi kasus kebanyakan skr adalah memanfaatkan kelengahan konsumen untuk mengaktifkan langsung kontent premium melalui short code. dan pelanggan tidak sadar klo mereka telah mengaktifkan layanan tersebut.

    1. Menangkutkan kalau melihat metodenya.. menakutkan dalam artian tidak semua pemegang HP melek teknik ini.. dan akhirnya kena JEBAKAN BETMEN…

  3. Dulu, waktu masih berkecimpung di dunia per-CP-an, modus-modus seperti ini menjadi perdebatan yang panjang.
    Intinya begini, bahasa marketing itu tidak dapat serta merta disalahkan begitu saja. Tetapi secara etika, pastilah sangatlah tidak baik.

    Saat itu, seingatku ada lebih dari 100 Content Provider yang berbisnis dengan operator-operator selular di Indonesia. Dari ratusan CP, hanya kurang dari 10 CP saja yang memiliki kerjasama yang baik dengan media (baca: dimiliki oleh media). Sehingga revenue yang dihasilkan sudah sangat besar.
    Bisa jadi 10% perusahaan CP menguasai market share diatas 90% dari bisnis Premium SMS cs.

    CP-CP dengan predikat Platinum sangat dimanjakan oleh operator selular, salah satunya adalah bagi hasil yang diberikan cukup besar. (sudah revenuenya besar, nilai bagi hasilnyapun juga tinggi).

    Bagaimana dengan 90% CP yang kondisinya bertolak belakang dengan CP-CP Platinum.
    Mereka harus berjuang untuk tetap survive di bisnis ini. Operator Selular juga memberikan nilai bagi hasil yang tidak terlalu besar untuk CP-CP ini (antara 40%-50%).

    Mungkin inilah yang menjadi pemicunya. Saat operator mengijinkan pemotongan pulsa otomatis untuk pelanggannya yang berlangganan layanan premium SMS, CP-CP mulai berlomba-lomba untuk mendapatkan sebanyak mungkin pelanggan.
    Buat saya, tidak semua layanan berlangganan SMS Premium itu buruk, beberapa layanan saya rasa cukup baik dan memiliki pelanggan yang benar-benar ingin berlangganan (misalnya layanan keagamaan).

    Dengan semakin ketatnya persaingan, bisa jadi banyak CP yang kehabisan akal dan kemudian berusaha untuk “menjebak” calon pelanggannya untuk berlangganan layanan premium SMS.

    Mestinya, Operator Selular, Asosiasi, BRTI, Kominfo, Polri dan siapapun yang perduli.. memberikan batasan-batasan yang jelas sehingga industri ini dapat berkembang dengan baik dan memiliki etika bisnis yang benar.

    salam

    ijin crossposting ya.. tumbuhnya industri konten di Korea Selatan -> http://www.hedwigus.com/jurassic-park-vs-hyundai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s