Posted in Diary

Diary: Krisis Keilmuan?

Mulai hari ini judul “diary” saya buat untuk blog ini. Isi dari diary adalah curhatan-curhatan yang sedikit keluar dari pakem blog ini dan berisi baik pengalaman lapangan maupun kajian normatif atas segala sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan saya selama berada di Semarang. Isinya tidak selalu serius karena hanya berbentuk curhatan semata.

Agak trenyuh juga ketika kemarin ngobrol dengan Prof. Dr Barda Nawawi Arief, S.H. guru saya di Undip Semarang. Menuru Prof. Dr Barda Nawawi Arief, indikator menurunnya kualitas pendekatan keilmuan tercermin dari 3 hal, yaitu:

  • Adanya realita yang sering diresahkan masyarakat umum, bahwa ada “budaya amplop” atau “budaya kotor/tercela” (dikenal umum sebagai “budaya mafia peradilan”) dalam praktik penegakan hukum
  • Seringnya mendatangkan “saksi ahli” dari kalangan ahli/pakar hukum (walaupun ada jaksa atau hakim yang menolak kedatangan saksi ahli) dalam persidangan.
  • Melihat hukum pidana hanya berdasarkan kaca mata kuda

Poin pertama sudah menjadi rahasia umum bahwa ada oknum (sebenarnya saya malas menggunakan kata “oknum” karena terlalu banyaknya jumlah oknum), poin kedua yang saya agak trenyuh, poin ketiga sudah biasa kalau itu. Kadang saya juga sering berpikir, seorang penyidik bergelar S.H. (sarjana hukum) dan S.I.K (Sarjana Ilmu Kepolisian) memanggil saksi ahli hanya untuk memberikan keterangan ilmu hukum, sesuatu yang telah mereka pelajari ketika bangku kuliah dan seharusnya dia kuasai di luar kepala.

Jeruk minum jeruk? mungkin dapat dikatakan begitu. Beberapa kali saya dipanggil oleh kepolisian untuk menjadi saksi ahli (saya lebih suka menyebutnya dengan ahli, tanpa ada embel-embel “saksi”) dan pertanyaanya adalah seperti mahasiswa yang bertanya kepada dosen, mirip perkuliahan sebetulnya. Memasuki persidangan, pertanyaannyapun seperti itu saja, seperti perkuliahan pada umumnya, saya hanya berpikir seperti ini: ilmu hukum pidana lulus, hukum pidana lanjutan lulus, tindak pidana tertentu juga lulus..kok masih bertanya tentang yang itu-itu saja ya? Butuh legalitas “obyektif” atau sekedar mencari jalan pintas agar memenuhi kualifikasi “bukti” formil?.

Apakah fenomena seperti ini dapat dikatakan sebagai “erosi keilmuan” seperti pendapat yang dikemukakan oleh Prof. Barda Nawawi di atas? Menurut anda?

 

Senin, 14 November 2011

Sam

Ditulis di kelas sehabis perkuliahan selesai.

2 thoughts on “Diary: Krisis Keilmuan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s