Posted in Diary, masyarakat

Diary: Dalih Pembunuhan Massal

Jumat 2 Desember 2011 kemarin saya jalan-jalan ke pameran Semarang Sejuta Buku yang bertempat di Jalan Sriwijaya 29 Semarang. Lazimnya seperti pameran buku, diskon dari penjual menjadi andalan masyarakat untuk berbelanja buku. Saya sendiri membeli buku yang harganya Rp 10.000,00 yang berjudul “Carok” terbitan LKiS pada awalnya (menyesuaikan kantong mahasiswa seperti saya). Tetapi ketika akan pulang sebelum meninggalkan gedung, samar-samar saya melihat sebuah buku, tidak terlalu baru tapi mengusik rasa penasaran saya.

Benar dugaan saya, buku tersebut adalah buku karangan John Roosa yang dahulu dibredel oleh Kejaksaan Agung RI. Saya dekati lapak buku tersebut. Dengan cover berwarna hitam dan sedikit sentuhan warna putih, terpampang jelas bahwa buku tersebut berjudul “Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto”. Saya sudah lama mencari buku ini, tepatnya sejak tahun 2009 dibredel. Buku ini menceritakan sisi lain peristiwa Gestapu atau Gestok yang menjadi memori berdarah perjalanan bangsa Indonesia. Untuk masalah Gerakan 30 September ini saya memiliki beberapa versi diantaranya adalah karangan Ben Anderson dan Peter Dale Scott. Buku ini  “diharamkan” beredar di masyarakat karena pada pokoknya berisi dalang Gestok atau Gestapu adalah Suharto dan karena kesalahan sejarah, terjadi pembunuhan besar-besaran terhadap kelompok di masyarakat.

Dalih Pembunuhan Massal
Adapun larangan dari Kejaksaan Agung yang melarang buku tersebut dituangkan dalam Keputusan Jaksa Agung Nomor KEP-139/A/JA/12/2009 tanggal 22 Desember 2009 Tentang Larangan Beredar Barang Cetakan Berupa Buku Berjudul Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto, karangan John Roosa, Penerjemah Hersiri Setiawan, Penerbit Institut Sejarah Sosial Indonesia Jl. Pinang Ranti No.3 Jakarta, Hasta Mitra Jl. Duren Tiga Selatan No.36 Jakarta Selatan di seluruh Indonesia.

Implikasinya adalah mewajibkan kepada mereka yang menyimpan, memiliki, dan memperdagangkan barang cetakan tersebut untuk menyerahkan kepada Kejaksaan Tinggi dan Kejaksaan Negeri setempat, dan mewajibkan kepada Kejaksaan, Kepolisian atau Alat Negara lainnya yang mempunyai wewenang memelihara ketertiban umum untuk melakukan pensitaan terhadap barang cetakan tersebut dan pelanggaran terhadap Keputusan Jaksa Agung RI tersebut diancam dengan hukuman sebagaimana diatur dalam pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Nomor 4/PNPS/1963 tanggal 23 april 1963 Tentang Pengamanan terhadap Barang-barang Cetakan yang Isinya Dapat Mengganggu Ketertiban Umum jo. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969 tanggal 5 Juli 1969 tentang Pernyataan Berbagai Penetapan Presiden dan Peraturan Presiden Sebagai Undang-Undang.

Sebuah tindakan yang sangat bodoh, dan untungnya Mahkamah Konstitusi membatalkan aturan tersebut sehingga kita dapat mengakses buku-buku yang dahulu dianggap “haram” beredar di negeri ini. Bertolak dari itulah saya membeli buku tersebut walaupun keadaan dompet dan tabungan sedang kritis🙂. Cukup aparatnya saja yang bodoh dan melakukan pembodohan, asal jangan saya. Sudah terlalu banyak “dosa” aparat negeri ini untuk menutup akses informasi dan menghalangi implementasi UUD 1945 “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Mungkin kalau bahasanya awamnya, bodoh jangan ngajak-ngajak. Offense? Ya! Saya Offense!

03 Desember 2011

Sam.

Ditulis pada saat menunggu antrian cuci motor

2 thoughts on “Diary: Dalih Pembunuhan Massal

  1. Jaman dulu banyak buku yang tidak boleh beredar dengan alasan demi keamanan, tapi toh sekarang banyak diantara buku-buku tersebut dijual di pasar buku second. Beruntunglah kamu yang akhirnya memiliki buku-buku langka dan dulunya “terlarang” itu, walaupun harus terengah-engah ditengah keuangan yang kritis ya…:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s