Posted in Diary

Diary: Membangun Server di Indonesia

Isu basi yang terus menjadi bahan pencitraan dari Kementrian Komunikasi dan Informatika (selanjutnya disebut Kominfo) serta Badan Regulator Telekomunikasi Indonesia (selanjutnya disebut BRTI) adalah tentang pembangunan server di Indonesia oleh Research in Motion (selanjutnya disebut RIM) sebagai produsen BlackBerry. Bagaimana tidak, sejak 2 tahun lalu isu ini masih hangat saja karena, katanya (sekali lagi katanya), jika server dibangun di Indonesia akan memudahkan aparat penegak hukum untuk melacak pelaku tindak pidana yang menggunakan perangkat BlackBerry.

Saya tidak tahu mengapa masalah membangun server RIM di Indonesia ini geraknya lebih cepat ketimbang mengurusi pencurian pulsa yang digarong oleh operator, isu bertahun-tahun yang masih hangat hingga kini. Saya jadi teringat ketika sahabat saya diwawancarai oleh media massa tentang pembangunan server RIM di Indonesia. Dia mengatakan bahwa sebenarnya server RIM ada di Indonesia atau tidak bukan masalah yang sesungguhnya, tetapi adalah hak akses atas server itu sendiri.

Berikut ini adalah kutipan wawancara tersebut:

Tapi dengan adanya server RIM di Indonesia, konon akan lebih mudah melakukan penyadapan terhadap pelaku kriminial. Sebenarnya, bagaimana tentang data penyadapan dan server ini?

Di negara manapun, adanya komunikasi BBM antara pelaku atau tersangka kriminal itu bisa dipantau. Kalau hanya hal itu yang dikhawatirkan, BBM sudah punya mekanisme untuk mendapatkan data tersebut. BlackBerry sudah menyediakan itu.

Saya sudah tahu sejak tahun 2009. Kalau ada permintaan penegak hukum dari negara manapun. RIM siap membantu. Hal ini bisa dilakukan tanpa kita mempunyai server di Indonesia. Request-nya sangat cepat kok, di bawah satu pekan datanya sudah bisa diterima penegak hukum. Tapi memang ada prosedur yang harus dilewati. Itu normal karena terkait privacy warga negara.

Jadi menurut saya, BlackBerry atau produsen di manapun di dunia ini yang sekelas dengan BlackBerry, saya yakin mereka tidak akan mendukung kegiatan kriminal apapun di dunia ini. Sehingga pada prinsipnya perusahaan seperti ini selalu mau diajak bekerja sama oleh penegak hukum di manapun. Mereka jualan, mereka ga mau imagenya jelek dengan mereka melindungi kriminal atau segala macam, tidak ada untungnya untuk mereka.

Mereka akan selalu mematuhi penegak hukum di manapun mereka menjual produknya. Pada intinya mereka bisa menyediakan data bila diminta penegak hukum. Kalau data itu sesuai dengan hukum di Indonesia dan prosedur legal BlackBerry, data itu bisa diberikan.

Lalu kalau server dibangun di Indonesia apa bedanya?

Bedanya kalau punya server di sini, pemerintah punya hak akses secara penuh. Jadi bisa disadap secara real time. Kemudian dari segi teknis, keuntungannya kalau di sini mengaksesnya pasti akan jauh lebih cepat. Di Indonesia kan ada international link bandwidth atau yang lokal. Kalau server di luar negeri dengan bandwidth internasional, kecepatan jauh lebih kecil dibandingkan bandwidth lokal seperti Open ISP. Sehingga user di Indonesia lebih cepat.

Apapun aplikasi atau servernya bila ditempatkan secara lokal bisa lebih cepat. Tapi bukan kemudian saya menjawab pertanyaan kalau BlackBerry ke sini terus lebih cepat, itu nanti lebih teknisnya. Lebih cepat itu pasti, tapi belum terukur seberapa cepatnya. Sumber: Republika

dan

Mengenai permintaan Menkominfo Tifatul Sembiring agar RIM menaruh server (repeater) di Tanah Air, Ruby menyatakan hal itu tidak perlu. “Buat apa ngotot minta server di sini (Indonesia). Kalau alasannya untuk akses data Blackberry bisa diminta koq sama RIM,”…”Bahkan saya bisa mendapatkan data tersebut. Asalkan dapat izin dan didukung dengan standar prosedur dan dokumen negara yang lengkap,” ujar Ruby sambil tertawa. Sumber: Media Indonesia

Kalau melihat penjelasan dalam wawancara di atas, masalah law enforcement lebih ke arah teknis “hak akses” untuk mendapatkan informasi. Keadaan dan letak server juga berpengaruh, tetapi hal tersebut bukan menjadi hal yang utama dan terutama. Entah mungkin karena berusaha mencitrakan ketegasan dari sebuah kementerian yang belum tampak gemilang kinerjanya, hal itu malah menjadi cemoohan banyak pihak. Saya paham, sangat paham bahwa aparat penegak hukum kita itu masih gagap teknologi, tetapi hal tersebut jangan dijadikan alasan menempatkan server di Indonesia, apalagi berdalih UU Telekomunikasi, UU ITE dan Kepmen yang ditafsirkan serampangan😀 .

Lebih baik Kominfo membenahi masalah intern yang belum terselesaikan hingga kini, seperti membuat Peraturan Pemerintah (selanjutnya disebut PP) dari UU ITE yang walaupun dalam UU ITE tertulis 2 tahun sejak masa pengundangan, tetapi saya haqqul yaqin andai dicantumkan 5 tahun sekalipun TIDAK AKAN PERNAH dapat mereka buat, atau jika membuat PP sulit lebih baik Kominfo membenahi rumusan RUU TiPiTI yang sangat jauh dari kesan akademis atau selemah-lemahnya kinerja paling tidak mengerti jalur Palapa Ring itu kemana saja😀 .

Mungkin jika ingin dibilang tegas, segera saja tutup layanan BlackBerry Internet Service di Indonesia, tetapi itu juga jika berani. Sekali lagi, jika berani, tetapi menurut saya sih…ya begitulah🙂. Semoga pola pikir birokrat kita itu berada di jalan yang benar, jangan seperti hij loopt als een kip zonder kop!. Goede middag🙂

22 Pebruari 2012

Sam.

Ditulis di Warung Nasi Goreng Gayeng Marem

10 thoughts on “Diary: Membangun Server di Indonesia

    1. OMDO alias omong doang, karo merasa kita cuma dijadikan tempat jualan, ya tutup aja tempat jualannya. Gak pake BB ya gak patheken *pengguna BB yang gak merasa butuh BB*

  1. Seharusnya pemikiran pembangunan server BB di Indonesia harus dibarengin dengan pemikiran antara lain:

    Dengan dibangunnya server blackberry di Indonesia, Pemerintah paling tidak memiliki tambahan pendapatan dari pajak dan biaya lisensi. Harapan kedepannya dengan adanya server BB, bisnis IT di Indonesia akan semakin menarik, karena dengan adanya server BB di Indonesia, paling tidak ada arus b/w yang lebih besar ke Indonesia dan akan banyak provider-provider IT yang akan buka server di Indonesia yang sebenarnya memiliki lokasi yg sangat strategis, bahkan lebih strategis dari Singapore yang segede upil itu.

    Selain itu, dengan adanya server BB di Indonesia, konsumen Indonesia akan diuntungkan dari koneksi yang lebih cepat dan harga yang lebih murah.

    Tapi sayangnya pemikiran di atas hanya sebatas kulit. Pemerintah tampaknya tidak sungguh-sungguh ingin BB punya server di Indonesia. Kalau sungguh-sungguh, paling tidak RIM tidak akan dipersulit untuk mengurus perizinan. Layanan internet di Indonesia akan ditingkatkan, supaya data center BB/provider IT lainnya di Indonesia bisa ter-support dengan baik.

    1. Izin dan segala tetek bengeknya pake duit gak Jek? Duitnya masuk kemana? Kalau secara normatif ke pemerintah kan ya? Kalau secara empiris….??😀

  2. Perlukah masyarakat kita belajar lagi dan secara intensif mengenai Prioritas

    For God forsaken, there’s a lot of things we should worry about this nation beside this crap

  3. hhiihihi bener-bener. Menutupi kinerja yang gak bagus dengan memaksa bikin server di Indonesia itu bukan hal yang cantik.. kowe ya pinter bahasa londo toh om, opo gawe huhel translate? *dijewer*

  4. bb bkin autis,sgla rhasia tntng negara ini yg d update d bb bkal bs mnjdi snjta untk mnjthkn ngara kt dr orng2 luar ngri..specs payah hrga mhal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s