Posted in Uncategorized

Diary: Dolly

Kemarin malam saya dan teman-teman pascasarjana berdiskusi kecil tentang masalah kesusilaan. Diskusi kecil tapi hangat tersebut membahas kasus-kasus kesusilaan mulai dari kasus video “Belum Ada Judul” hingga terakhir kasus video porno Ariel Peterpan. Diskusi yang cukup hangat tersebut pada akhirnya bermuara pada lokalisasi dan hukum pidana. Beberapa teman menceritakan tentang keadaan dari lokalisasi di daerah asal mereka. Ada yang menganalisis dari sisi regulasi, ada yang menganalisis secara filsafati, dan ada juga yang menganalisis dari perspektif sosiologi.

Dalam diskusi tersebut, saya mengambil contoh dari sebuah penelitian yang diterbitkan untuk umum. Penelitian yang saya maksud disini adalah skripsi mahasiswa Universitas Airlangga yang dijadikan buku dan patut mendapat acungan jempol karena telah melakukan penelitian yang ilmiah tentang lokalisasi di Surabaya, in casu Dolly. Beranjak dari hal tersebut, saya masih jarang menemukan karya tulis ilmiah dari perguruan tinggi yang membahas tentang hal ini.

Perlahan saya mencoba membuka ingatan saya tentang isi buku tersebut. Seingat saya, dulu pertama kali mengetahui skripsi itu dari guru hukum pidana saya, Bambang Sudjito, ketika masih berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Dalam mata kuliah yang beliau ampu, yaitu kejahatan terhadap subyek hukum, dalam perkuliahan kejahatan mengenai kesopanan/kesusilaan beliau menjelaskan tentang kondisi sosiologis dari lokalisasi Dolly yang beliau telaah dari buku tersebut.

Setelah terdiam cukup lama, saya mulai ingat kembali isi buku itu. Judul lengkap dari skripsi yang dijadikan buku tersebut ialah Dolly: Membedah dunia pelacuran Surabaya, kasus Kompleks Pelacuran Dolly. Saat masih menjadi skripsi utuh pada tahun 1982, judul lengkapnya adalah Latar Belakang Sosial Kehidupan Wanita Tunasusila-Kasus: Kompleks Pelacuran “Dolly” Surabaya yang dibuat oleh Tjahjo Purnomo Wijadi guna mencapai gelar sarjana sosial di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Airlangga, Surabaya.

Isi dari buku tersebut membahas tentang bagaimana situasi dan kondisi lokalisasi Dolly di Surabaya dari perspektif sosiologi. Dari sudut pandang seorang jurist, maka dapat memberikan gambaran utuh tentang kondisi masyarakat untuk diangkat dalam kajian sosiologi hukum, di mana untuk mengetahui persoalan dan keterkaitan antara masyarakat dan hukum tidak hanya menggunakan paradigma normatif, tetapi mengambil pendekatan yuridis sosiologis.

Ilustrasi dalam buku

Berdasarkan hal tersebut, kajian terhadap masalah sosial di masyarakat hendaknya tidak hanya dipandang dari perspektif normatif saja, melainkan harus dipandang secara holistik. Jika kita hanya melihat aturan menggunakan kacamata kuda, maka tidak akan tercipta keadilan substantif dan progresif. Taruhlah kita menggunakan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) untuk mengatasi permasalah seperti apa yang ada di Dolly, tanpa memperhatikan aspek-aspek sosial di dalamnya, maka akan terjadi chaos.

Banyak faktor-faktor non yuridis yang melatarbelakangi suatu problem sosial di mana pendekatan holistik sangat diperlukan guna mengetahui keadaan yang sebenarnya dalam masyarakat sehingga seorang jurist dapat memahami secara utuh persoalan yang ada di masyarakat. Pertanyaan klasik akan muncul dengan sendirinya “hukum untuk masyarakat atau masyarakat untuk hukum?”. Prof. Satjipto Rahardjo dalam bukunya “Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyatnya” pernah berpendapat bahwa hukum pada hakikatnya adalah sarana untuk mencapai kemanfaatan dan keadilan, di mana hal ini dapat dicapai jika mengetahui bagaimana kondisi sosial sebuah komunitas/masyarakat.

Paradigma doktrinal tidak sepenuhnya salah untuk menganalisis suatu permasalahan, tetapi perlu diingat bahwa tidak semua orang mengerti akan hukum meskipun terdapat kaidah semua orang dianggap mengetahui hukum (ignoratio iuris). Upaya penal bukan merupakan tindakan yang efektif untuk menekan sebuah tindak pidana, menurut Prof. Barda Nawawi Arief dalam bukunya “Kebijakan Hukum Pidana” upaya non penal merupakan sarana paling efektif, karena dalam upaya non penal terdapat sarana preventif seperti peningkatan kesejahteraan ekonomi, kesehatan lingkungan, hingga penyuluhan yang bersifat sosial. Dengan kata lain, upaya non penal masuk ke dalam sektor-sektor fundamental dalam masyarakat sehingga dapat mencegah tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat sekaligus hukum yang berlaku.

Upaya non penal, jika melihat kasus yang ada di Dolly dan keadaan negeri ini, tampaknya hanya bersifat hitam di atas putih, alias hanya ada dalam teori di lingkungan akademis, karena realitasnya tidak demikian. Andaikata kesejahteraan masyarakat (khususnya dalam hal ini masalah ekonomi) sudah mapan, dengan sendirinya hal-hal yang demikian tidak akan terjadi. Katakanlah hukum harus ditegakan, lokalisasi tutup karena dianggap melanggar hukum, tetapi keadaan ekonomi sebagian masyarakat sekitar masih jauh dari harapan, apakah ini merupakan solusi? Padahal dalam penelitian tersebut terungkap motif utama adalah motif ekonomis.

Itulah alasan yang saya kemukakan ketika menanggapi salah seorang teman yang mengutip adagium terkenal, fiat justisia ruat caelum yang berarti “hukum harus tegak walau langit runtuh” ketika membahas tentang legalitas dan penegakan hukum dalam melihat keberadaan lokalisasi.

15 thoughts on “Diary: Dolly

  1. Jadi inget. Dulu, aku sekalinya lewat Dolly tuh pas mau ke WTC dari kantor di HR Muhammad Surabaya. Pas dibonceng temen, dengan lugunya aku tolah-toleh, ini kawasan apaan sih kok billboard bir ada di setiap rumah. Terus pada jemur sofa, trus banyak mbak-mbak yang dandan menor. Ada yang jual daleman seksi dengan tampilan yang blak-blakan dipajang di depan toko.

    Dengan lugu pula aku tanya ke temenku, “Dek, ini daerah apa sih? Kok gini amat tampilannya?”
    “Lah, gimana sih kamu nih, ya ini namanya Dolly!”

    Ewww…

    1. :)) sama, dulu aku ngerti dari Gajah Pesing pas zaman nyari buku-buku buat kuliah dilewatin situ, ternyata kompleks itu namanya Dolly…Jarak!😀

  2. Posting apik mas. Walaupun banyak istilah yang saya hampir ndak tau. Tapi tetep menarik. Terus kapan kie mau meneruskan penelitian di Dolly? mbok aku diajak mas..

  3. postinganae duowo, tapi ono dua paragraf yang diedit dan terpotong.. ini cuplikannya,
    “saya mencoba masuk ke dalam wisma, degan ditemani pria yang merupakan mucikarinya. Saya memilih satu di antara mbak-mbak ini, sebut saja namanya eni. Gadis berperawakan putih, sedikit gemuk seperti saya…”

    “kami berdua masuk kamar..

  4. dulu..bayanganku bercinta di dolly itu akan sangat mahal, dan tidak semua orang akan bisa membayar… lah ternyata kaget juga pas pertama diajak lewat sana.. dengan tempelan harga yang menurutku murah…
    semoga semua baik baik saja, hepi ending

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s