Posted in Uncategorized

Diary: Birthday

Hari ini saya bertambah tua 1 tahun. Tidak terasa hidup di dunia ini seperti bermain Play Station berjam-jam namun hanya seperti bermain 1 menit. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman yang telah mengorbankan waktu hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun lewat Facebook, Twitter, BlackBerry Messenger, maupun milis, dan mungkin berkorban uang untuk membelikan saya kado. Semoga amalan baik kalian oleh Tuhan diberikan balasan yang tak terduga dan tak ternilai.

Pagi hari orang tua saya menelepon dan mendoakan saya, itulah mungkin kado yang sangat spesial yang saya terima pagi ini, maklum saja karena saya sedang merantau. Doa baik dari orang tua tak dapat kita ukur dengan apapun di dunia ini dan langsung didengar olehNya dan semoga dikabulkan, amiiiiin. Ada 2 hal dalam ulang tahun saya kali ini yang cukup berkesan dan berbeda dengan ulang tahun saya tahun lalu.

Continue reading “Diary: Birthday”

Posted in cybercrime, ilmu, Uncategorized

Diary: Masalah Penafsiran Analogi

Selasa, 10 April 2011 kemarin saya engkel-engkelan dengan dosen saya saat membahas tentang bagaimana menafsirkan perbuatan pidana ketika dalam sebuah undang-undang tidak ada ketentuan yang mengaturnya. Topik yang dibahas adalah tentang menafsirkan menggunakan penafsiran ekstensif dan penafsiran analogi. Kasus yang diangkat adalah mengenai perluasan makna ketika hakim memutus sebuah perkara.

Dosen saya tersebut mengatakan bahwa tidak bisa jika menafsirkan sebuah undang-undang dengan menggunakan penafsiran analogi karena bertentangan dengan asas legalitas dalam KUHP. Selain itu dalam RUU KUHP yang akan datang tidak diperkenankan pula menggunakan penafsiran analogi. Penafsiran ekstensif diperbolehkan karena memperluas makna saja dan tidak bertentangan dengan asas legalitas.

Saya sendiri sejak dahulu masih kuliah di S1, selalu mempertanyakan masalah perbedaan penafsiran analogi dan penafsiran ekstensif ini. Bagaimana tidak, sifat analogi dan penafsiran ekstensif itu sama, cara kerjanya sama, perbedaannya hanya nama dan sifat graduil saja. Dengan kata lain, penafsiran analogi dan penafsiran ekstensif itu, menurut dosen saya Adami Chazawi, setali tiga uang (kebetulan dosen sewaktu s1 tersebut menolak penafsiran ekstensif).

Continue reading “Diary: Masalah Penafsiran Analogi”

Posted in cybercrime, Diary, Internet, masyarakat

Diary: RUU Ratifikasi Convention of Cybercrime

Hari Selasa lalu saya mendapat tugas dari salah seorang dosen untuk segera merampungkan revisi bahan ajar Cyber Criminilogy di kampus. Sekitar 2 jam saya bergelut dengan draft yang nantinya akan menjadi diktat mata kuliah tersebut. Setelah selesai saya mencoba mencari beberapa komparasi regulasi yang mengatur tentang internet dari berbagai kawasan di dunia. Paling atas dalam pencarian, saya mendapati Convention of Cybercrime di Budapest menjadi rujukan utama regulasi internet.

Membaca Convention of Cybercrime yang disahkan tahun 2001 itu saya jadi teringat draft Rancangan Undang-Undang Ratifikasi Convention of Cybercrime yang Indonesia susun. Seingat saya, saya dulu pernah diberikan draft RUU tersebut untuk ditanggapi. Untuk meyakinkan itu saya mencari Surat Keputusan dari Kementrian Komunikasi dan Informatika tentang pembuatan RUU Ratifikasi ini dan ada dalam laptop saya.

Continue reading “Diary: RUU Ratifikasi Convention of Cybercrime”

Posted in Diary, ilmu, masyarakat, Uncategorized

Diary: Saksi Ahli

Hampir sepanjang perjalanan hidup sebagai mahasiswa saat ini saya habiskan dengan berdiskusi dengan rekan senasib sepenanggungan maupun dosen pengampu. Diskusi sendiri mulai dari topik yang ringan bahkan sampai topik yang sangat berat menghiasi keseharian saya. Tak terkecuali dengan Prof. Barda Nawawi Arief. Beliau adalah sesepuh hukum pidana Indonesia, sebagai murid dari alm. Prof. Soedarto, S.H., beliau termasuk Guru Besar yang mengetahui arah politik hukum pidana Indonesia dan bahkan sebagai anggota Tim Perancang Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana sejak dekade 1970an.

Hari Minggu kemarin, iseng-iseng, saya bertanya kepada beliau tentang saksi ahli. Sehabis makan siang yang beliau sediakan (masakan Padang buatan istri beliau), sambil menunggu hujan reda, iseng saya melontarkan sebuah pertanyaan (rendang buatan bu Barda mantab punya lho! 🙂 )

Continue reading “Diary: Saksi Ahli”