Posted in Diary, ilmu, masyarakat, Uncategorized

Diary: Saksi Ahli

Hampir sepanjang perjalanan hidup sebagai mahasiswa saat ini saya habiskan dengan berdiskusi dengan rekan senasib sepenanggungan maupun dosen pengampu. Diskusi sendiri mulai dari topik yang ringan bahkan sampai topik yang sangat berat menghiasi keseharian saya. Tak terkecuali dengan Prof. Barda Nawawi Arief. Beliau adalah sesepuh hukum pidana Indonesia, sebagai murid dari alm. Prof. Soedarto, S.H., beliau termasuk Guru Besar yang mengetahui arah politik hukum pidana Indonesia dan bahkan sebagai anggota Tim Perancang Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana sejak dekade 1970an.

Hari Minggu kemarin, iseng-iseng, saya bertanya kepada beliau tentang saksi ahli. Sehabis makan siang yang beliau sediakan (masakan Padang buatan istri beliau), sambil menunggu hujan reda, iseng saya melontarkan sebuah pertanyaan (rendang buatan bu Barda mantab punya lho!🙂 )

Saya bertanya, “Prof. Barda kan sudah termasuk sesepuh hukum pidana, kok seumur hidup gak pernah mau jadi saksi ahli sih?”. Mendengar pertanyaan seperti itu beliau hanya senyum. Selanjutnya beliau menjawab “Iya benar, saya memang gak mau jadi saksi ahli”, lalu saya tanya kembali, “Kok gak mau to Prof?”.

Prof. Barda menjelaskan secara panjang lebar, “You liat saja, seorang saksi ahli hukum pidana ketika masuk ke persidangan, ditanya oleh jaksa, hakim, pembela tentang unsur-unsur tindak pidana. Itu kan hal yang harusnya mereka sudah harus pelajari dan dapatkan ketika kuliah, itu namanya jeruk minum jeruk. Unsur-unsur tindak pidana itu seharusnya seorang hakim sudah tahu ketika kuliah, kok ini ditanyakan lagi? Aneh tidak?”. Beliau melanjutkan “Menjelaskan unsur-unsur suatu pasal merupakan hal yang jaksa atau hakim sudah dapatkan ketika kuliah, masa’ seorang hakim bertanya “saudara ahli tolong jelaskan unsur-unsur Pasal 480..”misalnya, hakim itu dianggap tahu hukum, kok masih tanya? Ini krisis keilmuan namanya” sambil tertawa.

Beliau lalu bercerita “Kemarin saya diminta MK memberikan keterangan ahli, saya tanya mereka mau tanya apa, lalu mereka jawab tentang UUD 1945. Loh ini aneh, saya ini orang hukum pidana, kok ditanyain tentang UUD 1945 tentang hukum tata negara. Saya jawab kalau sekedar itu ya rujuk saja pasal ini..ini..ini. Saya bilang, kalau begitu caranya, tidak usah saya memberikan keterangan ahli, kirim saja email pertanyaannya apa lalu saya jawab, semuanya ada rekamannya dalam laptop ini. Banyaknya kekacauan yang terjadi adalah ketika menyerahkan sebuah urusan kepada orang yang bukan keahliannya. Hakim itu tanya kepada ahli kalau dia tidak mengerti suatu bidang. Kalau misalnya masalah pencemaran lingkungan hidup, tanyalah kepada ahli lingkungan, kalau masalah racun ya tanya kepada ahli racun, kalau masalah foto porno misalnya, tanya ke <sensor> meskipun keterangannya diragukan ha..ha..ha”.

“Saya mengamati keterangan ahli dari si <sensor> dan <sensor> di persidangan, kebanyakan mereka ditanyakan masalah yang seharusnya mereka ketahui. Apakah seorang saksi ahli itu tidak dipengaruhi subyektifitas? Seorang ahli itu berdasarkan ilmu pengetahuannya, tetapi ketika masuk ke persidangan apakah dapat obyektif? Tidak dipengaruhi grogi misalnya, tidak dipengaruhi karena lupa, atau bahkan karena amplop yang berkepentingan?. Pernah itu kesaksian si <sensor> dipersidangan salah, saya tegur setelah sidang “Lho koe <sensor> kok keteranganmu gitu? Apa gak salah?”, trus dia njawab gak ada yang tau dia salah kecuali saya. Karena itulah saya gak mau jadi saksi ahli, saya mau jadi saksi ahli kalau ada yang bisa meruntuhkan prinsip saya..” tukasnya.

Menarik pendapat beliau soal saksi ahli di atas, secara praktis, pendapat dan prinsip beliau ada benarnya dan merupakan fakta di dunia hukum Indonesia. Entahlah…saya juga masih bingung bagaimana cara agar bisa meruntuhkan prinsip seorang Guru Besar seperti beliau agar mau jadi saksi ahli😀 *habis kena serangan balik gegara ndebat beliau pas diskusi*

Semarang, 2 April 2012

Sam.

Ditulis di warung nasi kucing Simpang Lima

2 thoughts on “Diary: Saksi Ahli

    1. Emmmm..belum pernah sih dijadikan saksi ahli hukum pidana cyber😀 dan kayaknya males juga deh, percuma kayaknya nerangin pas sidang gitu, durung karuan sing tak terangin iso paham😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s