Posted in cybercrime, ilmu, Uncategorized

Diary: Masalah Penafsiran Analogi

Selasa, 10 April 2011 kemarin saya engkel-engkelan dengan dosen saya saat membahas tentang bagaimana menafsirkan perbuatan pidana ketika dalam sebuah undang-undang tidak ada ketentuan yang mengaturnya. Topik yang dibahas adalah tentang menafsirkan menggunakan penafsiran ekstensif dan penafsiran analogi. Kasus yang diangkat adalah mengenai perluasan makna ketika hakim memutus sebuah perkara.

Dosen saya tersebut mengatakan bahwa tidak bisa jika menafsirkan sebuah undang-undang dengan menggunakan penafsiran analogi karena bertentangan dengan asas legalitas dalam KUHP. Selain itu dalam RUU KUHP yang akan datang tidak diperkenankan pula menggunakan penafsiran analogi. Penafsiran ekstensif diperbolehkan karena memperluas makna saja dan tidak bertentangan dengan asas legalitas.

Saya sendiri sejak dahulu masih kuliah di S1, selalu mempertanyakan masalah perbedaan penafsiran analogi dan penafsiran ekstensif ini. Bagaimana tidak, sifat analogi dan penafsiran ekstensif itu sama, cara kerjanya sama, perbedaannya hanya nama dan sifat graduil saja. Dengan kata lain, penafsiran analogi dan penafsiran ekstensif itu, menurut dosen saya Adami Chazawi, setali tiga uang (kebetulan dosen sewaktu s1 tersebut menolak penafsiran ekstensif).

Penafsiran analogi adalah penafsiran menggunakan analog/kias atas suatu perbuatan pidana yang tidak ada dalam Undang-undang. Sedangkan penafsiran ekstensif adalah penafsiran dengan memperluas makna dari suatu perbuatan pidana. Ketika dosen saya yang sekarang itu menjelaskan, saya mengangkat tangan saya dan berpendapat bahwa penafsiran diantara keduanya tak jauh beda, serupa tapi tak sama, tidak lebih tipis dari sehelai tisu. Saya menyetir pendapat Prof. Scholten: Pak, sebenarnya antara analogi dan ekstensif itu gak jauh beda, keduanya mencoba merumuskan kata atau perbuatan atau norma yang sifatnya sederhana, menjadi bersifat lebih tinggi sehingga cakupan makna luas dan menjadikan sebuah rumusan baru berdasarkan rasio, memang serupa tapi tak sama, tetapi perbedaannya tak lebih tipis dari sehelai tisu. Perbedaan tersebut hanya masalah gradasi/graduil saja”.

Dosen saya tersebut memberikan penjelasan bagaimana cara bekerja antara analogi dan ekstensif. Saya kembali memberikan bantahan dengan mengutip pendapat alm. Prof. Moeljatno yang mengatakan bahwa perbedaannya memang hanya soal gradasi saja, tetapi masih dapat dibedakan yang hanya sekedar interpretasi dan yang sudah meningkat kepada tahap analogi. Jika penafsiran ekstensif masih mendasarkan kepada undang-undang sehingga tidak bertentangan dengan asas legalitas. Kutipan dari pendapat alm. Prof. Moeljatno adalah sebagai berikut:

Dalam tafsiran ekstensif kita berpegang kepada aturan yang ada. Di situ ada perkataan yang kita berarti menurut makna yang hidup dalam masyarakat sekarang, tidak menurut maknanya pada waktu undang-undang dibentuk. Adalah mungkin jika dibanding dengan maknanya ketika aturan itu dibuat, bahwa yang pertama adalah Iebih luas. Akan tetapi sungguh pun demikian, makna yang lebih luas itu secara objektif bersandar atas pandangan masyarakat mengenai perkataan itu. Dalam menggunakan analogi, pangkal pendirian kita ialah, bahwa perbuatan yang menjadi soal itu tidak bisa dimasukkan dalam aturan yang ada. Tetapi perbuatan itu, menurut pandangan hakim seharusnya dijadikan perbuatan pidana pula, karena termasuk intinya aturan yang ada, yang mengenai perbuatan yang mirip dengan perbuatan itu. Karena termasuk dalam inti suatu aturan yang ada, maka perbuatan tadi lalu dapat dikenai aturan yang ada itu dengan menggunakan analogi. Jadi sesungguhnya jika digunakan analogi, yang dibuat untuk menjadikan perbuatan pidana pada suatu perbuatan yang tertentu, bukanlah lagi aturan yang ada, tetapi raslo into dari aturan yang ada…1

Selain itu, menurut Prof. Moeljatno, penafsiran ekstensif dapat mengisi kekosongan hukum manakala kejahatan dengan menggunakan sarana internet yang rumusannya tidak sepadan dalam KUHP. Berikut ini kutipannya:

Dalam kasus PN. Sleman pelaku dengan kartu kredit palsu dan kebohongan lain, melalui internet, telah berhasil menerima barang pesanan dan korban tanpa pembayaran seharusnya. Di sini, sesungguhnya hakim menggunakan interpelasi luas dan Pasal 378 KUHP. Tanpa menyebutnya dengan tegas (hakim hanya menyebut penafsiran/penerapan aturan hukum yang ada dan pula menggali, mengikuti, dan memahami nilai hukum yang hidup dalam masyarakat (penemuan hukum) maka dapat dikatakan ada peralihan makna/versehming van betchenis yi dan “langsung berhadapan muka” jadi “lewat Internet”. Dengan demikian Pasal 378 KUHP dapat tetap dipakai tanpa pula adanya aturan baru untuk menangani kejahatan lewat internet (Cyber-Crime) atau sambil menunggu peraturan baru, sehingga tidak ada kekosongan hukum.2

Saya kembali mengutip pendapat Prof. van Hattum yang meskipun beliau menolak analogi dalam menentukan sebuah perbuatan pidana, tetapi menolak juga penafsiran ekstensif. Perdebatanpun semakin hangat, tapi namanya juga perkuliahan, tentu saja perbedan pendapat adalah hal yang wajar dan lumrah. Sebenarnya saya ingin membahas masalah penafsiran anaologi dan ekstensif ini lebih detail, tapi kok rasanya waktu perkuliahan sudah hampir selesai sehingga mengurungkan niat itu.

Jam sudah menunjukan pukul 11.30 WIB, saatnya perkuliahan berakhir. Bagi saya, perdebatan seperti kemarin itu sangat mengasyikan, saling kutip pendapat para sarjana dan saling adu argumentasi berdasarkan literatur, doktrin sarjana, dan perundangan yang ada.

__________________

1. Periksa: Moeljatno. Asas-asas Hukum Pidana, Jakarta: Rineka Cipta, hal. 32

2. Ibid,. Hal. 33

11 April 2012

Sam.

Ditulis di KFC Citra Land

One thought on “Diary: Masalah Penafsiran Analogi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s