Posted in Diary

Diary: Perjalanan Mencari Seteguk Ilmu

Alhamdulillah, masa-masa perkuliahan saya hampir selesai, tinggal merampukan tugas akhir. Tidak terasa sudah 1 tahun saya hijrah ke kota yang belum pernah saya singgahi untuk sekedar rekreasi ataupun urusan kerjaan. Banyak suka dan duka selama saya berusaha mencari seteguk ilmu ditengah padang pasir yang gersang dikehidupan ini. Tak hanya kesenangan yang saya dapat, tapi juga beberapa cobaan yang ada di daerah saya tinggal.

Awalnya saya tidak mengira akan mengambil pascasarjana ini, bagaimana tidak, gelar saya itu sudah lebih dari cukup dari segi formal maupun non formal, untuk kerjaan saya juga sudah menemukan passion saya pada bidang yang saya tekuni saat ini, dan untungnya lagi bidang tersebut belum banyak yang mengambil, kalaupun ada mungkin karena beberapa kasus heboh yang jadi isu nasional dimana bidang yang saya tekuni itu dipakai, biasalah….dulu ketika bidang tersebut masih sepi, dipandang sebelah mata, begitu ramai seketika itu juga berduyun-duyun, begitu diuji, hasilnya ya….gitu deh­čśŤ

Mengambil program pascasarjana bagi saya mungkin tidak seperti kebanyakan orang untuk sekedar meningkat dari S1 atau mengejar kenaikan pangkat buat PNS dan polisi (kalaupun ada dan itu pasti ada, betapa menyedihkannya anda) untuk memenuhi standar formalitas, bukan mendapatkan ilmu yang memang layak untuk diperjuangkan. Bagi saya seorang mahasiswa pascasarjana dituntut untuk menguasai bidang yang melebihi S1, dan harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan akademis, jika tidak tentu saja anda hanya akan menjadi sampah akademis.

Saya sempat tertegun ketika salah seorang dosen pembimbing saya menyarankan untuk melanjutkan studi, saya bertanya dalam hati, untuk apa pak? Untuk apa bu?. Saya tidak menggeneralisir, tetapi sepanjang pekerjaan saya, entah ya, saya kok banyak menemui orang-orang yang sudah master (sudah doktor malah) justru aneh-aneh orangnya, aneh dalam artian, gak jauh beda dengan yang S1, malah kadang mutunya dibawah S1, cuma menang gelar formalitas saja. Lha kalau sampai seperti itu, apa bedanya saya dengan mereka? Kalau mereka “sekolah lagi” untuk sekedar naek pangkat dari III D ke IV A atau dari Ajun Komisaris Polisi ke Komisaris Besar Polisi mungkin wajarlah, ada alasan, Lha bagaimana dengan saya? Mau naik pangkat apa coba? Rupanya disini saya harus melakukan reorientasi dalam studi.

Akhirnya saya berdiskusi dengan dosen pembimbing saya ketika S1 di Indonesia itu. Dari hasil diskusi itu mengerucut kepada pertanyaan “Apa tujuanmu sekolah lagi?”. Pertanyaan filsafati seperti itu tentu!…tentu saja saya tidak bisa jawab! Akhirnya saya menjawab dengan jawaban template, untuk mencari ilmu yang berbeda. Saya adalah alumnus jurusan pidana otomatis untuk lebih memantapkan lagi dalam keahlian saya, saya mengambil magister dalam bidang pidana. Muncul masalah lagi, dimanakah saya harus kuliah dengan dosen yang kualifikasinya seperti yang saya inginkan? Hasil dari inventarisasi seluruh kampus (saya coret kampus luar negeri karena masalah duit) mulai dari Universitas Indonesia sampai Universitas Airlangga. Saya cari dosen yang benar-benar ahli dalam bidangnya dan kampus mana, mulai dari segi formal, segi jam terbang, segi karya ilmiah, sampai segi urusan apa saja yang dia pernah tangani. Rugi dong kuliah mahal kalau tidak dapat apa-apa, saya membayar kewajiban, setidaknya kampus dapat memberikan hak saya. Akhirnya saya menemukan sesepuh hukum pidana Indonesia yang masih aktif mengajar, hidup di 3 zaman, dan jam terbangnya ampun deh. Beliau adalah Prof. Dr. Muladi, S.H. dan Prof. Dr. Barda N. Arief. Memantapkan niat, saya hijrah ke kota Semarang. Selain konon katanya kampus ini merupakan kiblat hukum pidana di Indonesia (sekali lagi, konon katanya), salah satu alasan mengapa saya mau kuliah lagi ya karena 2 orang ini masih aktif ngajar­čśŤ

Masuk ke program pascasarjana ini melalui tes, otentu saja, saya tidak punya koneksi apa-apa, beda dengan orang lain yang mungkin punya kenalan dosen atau kenalan dekan yang dapat masuk dengan formalitas tes biasa, saya masuk dengan tes dan harus berpusing ria. Untung tes masuk tidak ada masalah yang berarti. Tesnya adalah menjawab pertanyaan soal, menerjemahkan regulasi asing, membuat makalah, tes bahasa Inggris, dan TPA. Alhamdulillah lulus tanpa mengulang, meskipun dengan nilai pas-pasan. Bersentuhan dengan kehidupan kampus mau tidak mau membuat saya harus berkumpul dengan teori dan buku. Terbiasa mengerjakan request klien soal teknis dan terkadang memberikan legal memorandum atau memberikan keterangan ahli, saya agak kagok ketika harus membaca banyak literatur dan menjawab soal teoritis disertai jawaban yang sangat panjang.

Semua berjalan dengan baik, saya dapat mengikuti perkuliahan dengan enjoy, mendapatkan teman-teman yang dapat diajak diskusi, dan tentu saja di kota ini saya jadian dengan seseorang, itu juga penting. Dalam perkuliahan ini juga saya banyak bertemu dengan ahli hukum yang unik, sebut saja Prof. Mr. Dr. Soetojo Prawirohamidjodjo (iya, dia pakai gelar Meester in de Rechten zaman Belanda) yang jika mengajar  menggunakan bahasa Belanda dan di usia beliau yang menginjak 85 tahun ingatan beliau soal perkuliahan tidak lupa sedikitpun, entah bagaimana caranya beliau belum pikun, yang jelas saya kagum dengan Meneer yang satu ini.

Saya juga terhubung dengan guru bahasa Belanda saya dalam bidang hukum tahun 2006 yang menjadi penghubung kerjasama Indonesia-Belanda untuk melakukan penataran terhadap dosen hukum pidana se-Indonesia, Dr. Marjanne Termorshuizen-Arts, setelah 6 tahun putus kontak, akhirnya dapat berhubungan kembali dan untungnya masih ingat dengan saya. Selain itu juga menjalin kontak kembali dengan pensiunan hakim Mahkamah Agung Belanda yang sejak tahun 1984-2006 menjadi penanggap Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia dan menjadi penatar untuk dosen hukum pidana se-Indonesia, Prof. Em. Mr. Dr. Nico Keijzer. Satu-satunya yang belum saya jalin kontak adalah dengan Prof. Dr. Dieter Schaffmeister.

Saat di kampus inilah saya mengerti dan paham historis penyusunan RUU KUHP sejak tahun 1961 hingga tahun 2012 ini, cukup lama bukan untuk sebuah rancangan perundang-undangan? Sudah beberapa generasi tetapi tetap saja naskah RUU KUHP itu ada di kulkas Sekretariat Negara menunggu rapat terbatas (ratas) yang entah kapan (mungkin menunggu para penyusunnya meninggal semua baru akan dibahas). Banyak hal baru yang didapatkan, oh tentu saja, saya sampai wisuda dulu belum pernah melihat wujud Wetboek van Strafrecht, baru disini saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bentuknya bagaimana ha…ha…ha…ha…

Sudahlah, pokoknya banyak hal baru yang belum saya pernah dapatkan sebelumnya lalu saya dapatkan disini, kalau seluruh kegiatan saya lalu saya tuliskan semua disini, bisa sampai bagian 10 juga belum tentu selesai, oke….moral of the story...ketika anda melakukan sesuatu atau hendak melangkah ketingkat yang lebih tinggi hendaknya anda melakukan reorientasi tujuan anda sambil bertanya kepada diri anda… “Apa tujuan saya sebenarnya melakukan ini?”. Sekian.

3 Agustus 2012

Sam.

Ditulis di warung Nasi Goreng Serayu.

4 thoughts on “Diary: Perjalanan Mencari Seteguk Ilmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s