Posted in Diary, ilmu, masyarakat

Visum et Repertum Pahlawan Revolusi

Berbicara mengenai Gerakan 30 September, saya tidak banyak referensi. Sampai detik ini saya hanya mempunyai beberapa buku yang menjelaskan teori dalang Gerakan 30 September, tentu saja di luar versi Orde Baru.  4 buku tersebut memang ditulis oleh orang dari luar Indonesia dan keempatnya sempat dilarang peredarannya di Indonesia oleh Kejaksaan Agung dan para penulisnya sempat juga dilarang ke Indonesia.

4 buku yang berbicara mengenai dalang Gerakan 30 September tersebut adalah;

  1. Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Analisis Awal
  2. The End of Sukarno
  3. Peranan C.I.A Dalam Penggulingan Bung Karno
  4. Dalih Pembunuhan Massal

Buku pertama ditulis oleh Benedict Anderson dan Ruth T McVey. Buku ini merupakan buku  yang dilarang keras oleh Orde Baru, penulisnya Ben Anderson dilarang masuk ke Indonesia. Buku yang dikenal dengan nama Cornell Paper ini merupakan buku yang saat pertama diluncurkan menimbulkan reaksi keras dari presiden Indonesia kala itu, Soeharto. Betapa tidak, buku tersebut memberikan alternatif teori bahwa dalang Gerakan 30 September adalah angkatan darat. Terjemahan bahasa Indonesia buku ini saya dapat dari Antok Suryaden yang menerbitkan buku tersebut.

Buku kedua memang tidak begitu banyak didengar (setahu saya) di Indonesia, pada pokoknya buku ini menjelaskan bahwa dalang Gerakan 30 September adalah Soekarno sendiri. Penulisnya adalah John Huges, saya mendapatkan buku ini dengan harga cukup merogoh kocek, Rp 200.000,00 di pasar buku bekas. Buku ketiga merupakan buku yang terbilang abu-abu mengenai Gerakan 30 September bagi saya. Buku tersebut menganlisisnya dari sisi intelijen, sesuatu yang merupakan daerah “misterius” bagi orang awam. Menurut buku ini, dalang Gerakan 30 September adalah Central Intelligence Agency (CIA), dinas intelijen Amerika Serikat.

Buku terakhir ini sepertinya hendak mengakhiri polemik dengan mengatakan bahwa Gerakan 30 September PKI dengan kudeta angkatan darat melalui Soeharto merupakan hal yang sangat berbeda, tetapi memiliki kausalitas. Buku ini dulu dilarang oleh Kejaksaan Agung, tetapi oleh Mahkamah Konstitusi dibatalkan

Berdasarkan keempat teori Gerakan 30 September tersebut, teori mana yang saya percaya? Tidak ada!. Jelas sekali namanya juga teori, tidak ada yang benar dan tidak ada juga yang salah, semua kembali kepada subyektifitas para penulisnya, termasuk bagi saya versi Orde Baru. Sudah jelas propaganda lewat film G 30 S/PKI itu sangat melenceng dari sejarah dan dulu setiap malam 30 September TVRI yang setiap jam 21.00 WIB menyiarkan film menyesatkan tersebut. Ya…propaganda yang cukup menyesatkan!

Satu-satunya hal yang saya percaya saat ini dari rangkaian Gerakan 30 September adalah mengenai Visum et Repertum yang dibuat oleh 5 ahli kedokteran forensik/kedokteran kehakiman. Perihal Visum et Repertum sebenarnya saya sudah mendengarnya ketika membaca paper lain dari Ben Anderson yang berjudul How Did the Generals Die? (Visum et Repertum dilampirkan dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris) yang saya dapat dari teman saya tahun 2002.

Pada pokoknya paper Ben Anderson tersebut, berdasarkan ilmu kedokteran forensik, para jendral dan korban Gerakan 30 September tidak seperti yang digambarkan angkatan darat seperti: mata dicongkel, kemaluan dipotong, dan hal-hal mengerikan lainnya. Pada awalnya saya juga tidak percaya mengenai Visum et Repertum tersebut sampai saya mendapatkannya dari seorang teman jurnalis yang cukup banyak makan asam garam dan kolesterol karena hidup berkecukupan, Dandhy Dwi Laksono.

Beberapa pemberitaan koran “Api Pantjasila”, “Angkatan Bersendjata”, dan “Berita Yudha” sebagai mana dikutip oleh Ben Anderson dalam papernya sebagai berikut:

Boleh dibilang Dandhy adalah orang Indonesia pertama yang membuka kepada publik tentang Visum et Repertum (terutama kepada Arsip Nasional Republik Indonesia). Visum et Repertum tersebut dibuat oleh dr. Brigjen Roebiono Kertopati (bagi Sandiman, pasti tau siapa orang ini, tidak tahu? kualat!), Kolonel Frans Pattiasina (Periwa Kesehatan RSPAD), Professor Sutomo Tjokronegoro (ahli kedokteran kehakiman dari Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia), Liauw Yan Siang (dokter dan dosen ilmu kedokteran kehakiman dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), dan Lim Joe Thay (dokter dan dosen ilmu kedokteran kehakiman Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia). Visum et Repertum ini pernah ditampilkan oleh Indoleaks.org dengan sensor sana dan sini, entah mengapa harus disensor.😛

Saya membandingkan Visum et Repertum dari Ben Anderson dan Dandhy (pada gambar di bawah sebelah kiri merupakan Visum et Repertum dari Ben Anderson dan kanan Visum et Repertum berbahasa Indonesia), ternyata memang Visum et Repertum itu benar adanya, resmi dibuat oleh ahli kedokteran kehakiman, resmi dikeluarkan oleh badan yang berwenang, resmi memang dokumen hukum, dan tentu saja disembunyikan selama puluhan tahun oleh Orde Baru!

Bagi saya pribadi, Visum et Repertum ini satu-satunya yang dapat saya percaya terkait Gerakan 30 September, Mengapa? Selain merupakan dokumen hukum yang disembunyikan selama puluhan tahun, mungkin 40 tahun sejak Orde Baru hingga ditemukannya Visum et Repertum ini, dokumen ini dikeluarkan oleh 5 ahli kedokteran kehakiman yang terbaik dizamannya. Kredibilitas dokumen ini layak dipercaya dari koran-koran saat itu yang diterbitkan oleh Angkatan Darat tanpa mengutip sumber apapun.

Sehabis membaca utuh Visum et Repertum tersebut, pertama-tama saya prihatin, mengapa Visum et Repertum tidak pernah terdengar sejak Soeharto berkuasa dan sampai tumbangnya dia, tidak pernah ada di dalam buku pelajaran sekolah dari SD hingga SMA bahkan perguruan tinggi, saya tahunya dari SD hingga SMA kalau para pahlawan revolusi itu disiksa secara keji oleh PKI dan Gerwani. Kedua, saya menjadi berpikir, ada berapa banyak dokumen yang disembunyikan demi membuat stigma di masyarakat tentang penyiksaan pahlawan revolusi. Ketiga, mengapa saya tidak menemukan dalam hasil Visum et Repertum tersebut kondisi korban seperti mata tercongkel dan kemaluan yang dipotong seperti pemberitaan saat itu?. Hanya ada 2 kemungkinan, 5 orang ahli kedokteran kehakiman itu tidak kompeten atau memang ada yang sedang menyelam di air keruh saat itu.

Berdasarkan hal tersebut, agaknya saya setuju dengan pendapat Farid Gaban saat ngobrol di Yogya bahwa sebenarnya masalah Gerakan 30 September merupakan sebuah “konspirasi” penguasa kala itu untuk mengendalikan alur sejarah bangsa. Sejarah memang ditulis oleh seorang “penguasa rezim”, ia yang akan mengontrol kemana dan apa saja yang boleh dituliskan, disebarluaskan, dan dijadikan alat politik yang menguntungkan.

Anyway, terima kasih buat Dandhy Dwi Laksono dan Antok Suryaden yang telah memberikan referensi yang cukup berharga dan menambah wawasan saya masalah Gerakan 30 September ini.

NB: Bagi yang ingin mendapatkan Visum et Repertum tersebut dapat menghubungi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

3 thoughts on “Visum et Repertum Pahlawan Revolusi

  1. *speechless baca ini*

    Tapi saya setuju dengan pernyataan “sejarah memang ditulis oleh seorang “penguasa rezim”, ia yang akan mengontrol kemana dan apa saja yang boleh dituliskan, disebarluaskan, dan dijadikan alat politik yang menguntungkan.”

    Jadi, tadi malem film G-30 S PKI tayang jam berapa, ya?:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s