Posted in ilmu, masyarakat

Terduga Mbahmu!

Saya agak jengah ketika membaca berita tentang terduga teroris, terduga krouptor dan sejuta terduga lainnya di media massa. Sepengetahuan saya, sampai detik ini, di fakultas hukum seingat saya tidak pernah diajarkan apa itu “terduga”. Apakah ini masalah sepele? Bagi saya ini bukan masalah sepele, karena ada akibat hukum yang ditimbulkan.

Istilah terduga sering saya baca ketika misalnya Detasemen Khusus 88 menggrebek teroris, tidak hanya menggrebek teroris, ketika dirasa membahayakan tidak segan-segan polisi menembak mati “terduga” teroris, berbekal status terduga polisi dapat menembak mati manusia yang belum kena penyidikan maupun penyelidikan. Contoh lain adalah ketika ada kader partai penguasa melakukan korupsi disebut terduga koruptor.

Ada dua kemungkinan munculnya istilah terduga ini, pertama karena adanya polisi yang terlalu pintar main istilah dan/atau karena adanya wartawan yang cari selamat penggunaan istilah. Kemungkinan pertama adalah polisi tersebut tidak pernah belajar hukum acara pidana dan istilah di dalamnya, tidak usahlah jauh-jauh sebagai seorang sarjana hukum, polisi standar lulus SMA saja yang kesehariannya membaca Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) pasti tahu istilah-istilah tersebut.

Kemungkinan kedua adalah wartawan yang cari selamat, ya wartawan tersebut merupakan wartawan newbie, buta istilah hukum, dan pokoknya berita yang ia liput segera “naik cetak”, penggunaan istilah hukum? Ah itu nomer kesekian. Dengan tidak pekanya editor yang juga tidak mengerti istilah hukum tersebut saya ucapkan selamat, kalian semua sudah berperan membodohkan kehidupan bangsa.

Penasaran dengan hal tersebut, maka saya membuka beberapa literatur tentang hukum acara pidana Indonesia. Saya membuka Pengantar Hukum Acara Pidana karya Prof. Dr. Andi Hamzah, S.H. Pada buku karangan jaksa senior tersebut saya tidak menemukan kata  “terduga”. Selanjutnya saya buka buku Kedudukan Hakim, Jaksa, Jaksa Pembantu, dan Penyidik Dalam Penyelesaian Perkara Sebagai Penegak Hukum karya R. Soesilo. Pada buku karya polisi sepuh yang jadi bahan bacaan Taruna Akademi Kepolisian tersebut tidak saya temuka juga istilah “terduga”

Saya mencoba melakukan komparasi dengan hukum pidana negara lain, untuk itu saya merujuk beberapa literatur hukum acara pidana. Beberapa literatur perbandingan hukum pidana tersebut adalah Perbandingan Hukum Pidana, Beberapa Masalah Perbandingan Hukum Pidana, Sari Kuliah Perbadingan Hukum Pidana karya Barda Nawawi Arief. Selanjutnya saya cari istilah tersebut di Hukum Pidana Perbandingan karya S.R. Sianturi, S.H. Tak puas itu saya juga cari di Perbandingan Hukum Pidana karya Prof. Dr. Romli Atmasasmita, S.H. dan Perbandingan Hukum Pidana Beberapa Negara karya Prof. Dr. Andi Hamzah. Semuanya nihil kata “terduga”! Mentok saya buka kamus hukum.

Berdasarkan beberapa literatur tersebut, saya hanya menemukan istilah-istilah seperti verdachte istilah Belanda untuk terdakwa, baik sebelum penuntutan dan sesudah penuntutan1. Suspect untuk terdakwa sebelum penuntutan dan accused untuk terdakwa setelah penuntutan, atau dalam beberapa literatur terdakwa disebut defendant. Khusus Indonesia, sepertinya ada “terduga”.

Saya akhirnya membuka KUHAP yang dijadikan “kitab suci” para penegak hukum dalam menegakan hukum, dalam KUHAP saya hanya menemukan tiga istilah, yaitu tersangka, terdakwa, dan terpidana. Pasal 1 butir 14 KUHAP menyatakan tersangka adalah seorang yang karena perbuatannya atau keadaannya, berdasarkan bukti permulaan patut diduga sebagai pelaku tindak pidana. Pasal 1 butir 15 KUHAP menyatakan bahwa terdakwa adalah seorang tersangka yang dituntut, diperiksa, dan diadili di sidang pengadilan. Pasal 1 butir 32 menyatakan terpidana adalah seorang yang dipidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap

Berdasarkan hal tersebut, maka saya masih bingung istilah “terduga” ini menyusup dari siapa/apa, yang pasti dan jelas, seorang dosen yang mengajar mata kuliah hukum pidana saya duga tidak akan melontarkan istilah “terduga” ini, lantas siapa?; yang pasti adalah jika bukan polisi yang sok ingin keren dengan menciptakan istilah aneh-aneh, ya pasti wartawan!. Terduga mbahmu a!

1. Marjanne Termorshuizen-Arts, Kamus Hukum Belanda-Indonesia, Jakarta: Koninklijk Instituut voor Taal-,Land-en Volkenkunde (KITLV) dan Penerbit Djambatan, 2002, hal. 460.

9 thoughts on “Terduga Mbahmu!

  1. Pasal 1 butir 15 KUHAP menyatakan bahwa terdakwa adalah seorang tersangka yang dituntut, diperiksa, dan diadili di sidang pengadilan

    Berarti cocoknya disebut ‘terdakwa koruptor‘ atau ‘terdakwa teroris

    kan definisi dari tersangka diatas kan

    tersangka adalah seorang yang karena perbuatannya atau keadaannya, berdasarkan bukti permulaan patut diduga sebagai pelaku tindak pidana.

    Kan masih sebatas di periksa, diadili, dan baru akan dituntut apabila sesuatu hal yang menyebabkan seseorang berstatus tersangka yaitu bukti permulaan yang menyebabkan orang tersebut diduga sebagai pelaku tindak pidana?

    Bener atau salah mas?

  2. Kalau dikaji dari bahasa Indonesia, kosaka “terduga” juga menimbulkan ketaksaan alias kebingungan, mas. prefiks ter- mempunyai arti dalam keadaan atau tidak sengaja. padahal, jelas dalam konteks ini dilakukan secara sadar dan sengaja.

  3. Kalau saya tak salah ingat, maklum saya sering sakit ingatan, kata “terduga” muncul dari kalangan militer. Dulu Wiranto pada masa Harto berkuasa beberapa kali menyatakan “patut diduga”. Nah istilah nonhukum entah kenapa dianggap enak oleh para bawahan dan dikutip oleh jurnalis. Seolah-olah sudah memenuhi asas praduga tak bersalah.

    Jadi jurnalis memang makin sulit, akibatnya pembaca ikut bingung, atau larut dalam kesalahkaprahan. Sekian hari media melapokan “rencana gugatan oleh polisi terhadap KPK”, tapi makin tak jelas apakah gugatan itu sudah didaftarkan, lalu di mana mendaftarkannya, padahal akhirnya cuma disebut “gugatan”. Jurnalis Barat eh berbahasa Inggris mengenal “file a lawsuit”. Ada pemberkasan.

  4. Jadi yg patut disalahkan sapa ?
    masih TERDUGA kok udah nembak mati dengan alasan melakukan perlawanan.
    apakah kata MELUMPUHKAN , susah untuk dilakukan oleh para penegak hukum di negara ini..

  5. Saya awam hukum. Tapi sempat baca KUHAP. Sama spt anda…sejak pertama kali muncul istilah saya jafi heran…kok belum saya ada yg komplain dg istilah ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s