Posted in ilmu, masyarakat

Fatwa-fatwa tentang Selamat Natal

Sore tadi saya sharing di twitter soal boleh atau tidaknya sesorang yang beragama Islam mengucapkan “selamat natal” terhadap sahabatnya yang non Islam. Saya melihat perdebatan di Twitter sudah seperti debat kusir, dan ironisnya yang terlibat debat kusir justru orang-orang yang dianggap senior, intelektual, dan jam terbang di masyarakat sudah tinggi.

Miris rasanya melihat kelakuan seperti itu di Twitter, apa ya tidak malu jika dilihat dan dibaca oleh followernya? Masalah utamanya adalah saya sangat yakin pihak yang pro dan kontra pengucapan selamat natal tersebut belum membaca fatwa baik yang pro dan kontra pengucapan selamat natal. Mengapa saya yakin? simple, mengutip redaksi fatwa saja salah.

twitter

Agar tidak terjadi kekisruhan maka tadi sore saya share di Twitter fatwa dari kedua kubu. Fatwa sendiri memang ranah “ijtihad” sehingga tidak bisa saling menggugurkan karena terkait situasi dan kondisi seorang mujtahid ketika mengeluarkan fatwa tersebut. Berikut ini adalah fatwa dari pihak pro dan kontra.

1. Fatwa MUI

MUI

Fatwa ini adalah fatwa yang paling terkenal dan SANGAT SERING dikutip tetapi pengutip terkadang tidak mengetahui esensi fatwa tersebut. Banyak artikel di internet yang mengatakan bahwa MUI berfatwa bahwa mengucapkan selamat natal itu haram hukumnya berdasarkan fatwa MUI tahun 1981 tersebut. Pertanyaannya, apakah di dalam fatwa tersebut ada larangan mengucapkan selamat natal? Silahkan baca sendiri isi fatwa tersebut. Alangkah sangat memalukannya ketika gembar-gembor mengutip fatwa MUI ini dengan kesimpulan “MUI mengharamkan ucapan selamat natal berdasarkan fatwa tahun 1981 yang dikeluarkan saat zaman Prof. Dr. Hamka”.

2. Fatwa Salafy

Utsaimin

Larangan mengucapkan selamat natal yang selama ini beredar didasarkan pada fatwa ulama Salafy yang bernama Muhammad Shalih bin Utsaimin dengan alasan bahwa mengucapkan selamat natal dianggap meniru tradisi orang kafir. Fatwa resmi tersebut dapat diakses di website Salafy. Tentang kesimpulan Muhammad Shalih bin Utsaimin bahwa selamat natal haram menurut ijma’ ulama, saya tidak sependapat dengan dia dan sudah pernah saya bahas pada artikel tentang natal sebelum ini.

3. Fatwa Yusuf Qardhawi

Qardhawi

Fatwa Yusuf Qardhawi pada dasarnya membolehkan mengucapkan selamat natal. Dalam fatwa tersebut didasarkan atas dasar toleransi antar umat beragama yang memiliki hubungan yang baik dengan seorang muslim tanpa ada tendensi terhadap akidah seseorang. Fatwa tersebut lebih menitikberatkan pada hubungan antar individu yang berbeda agama dalam menyikapi hari besar agamanya masing-masing. Bagi yang ingin membaca lengkap fatwa tersebut dalam mengakses website Yusuf Qardhawi.

3. Fatwa Mustafa az Zarqa

Zarqa

Zarqa2

Pada fatwa yang dikeluarkan oleh Mustafa az Zarqa ini, berisi kebolehan (lawful/halal) seorang muslim mengucapkan selamat atas perayaan hari besar agama lainnya dengan maksud menjaga hubungan baik dengan mereka. Anggapan bahwa masalah pengucapan selamat natal berikaitan dengan justifikasi dan peribatan mereka menurut fatwa ini salah kaprah dan terlalu berlebihan.

4. Fatwa Dr. Jamal Badawi (European Council for Fatwa and Research and the Fiqh Council of North America) dan Ahmad Kutty (Ulama Islam dan dosen senior Islamic Institute of Toronto)

Badawy-Kutty

Fatwa tersebut membolehkan seseorang mengucapkan selamat natal dan menghadiri perayaan mereka dengan catatan tidak untuk mengikuti ritual keagamaan mereka (dalam bentuk ikut ibadah) dan membenarkan prinsip ajaran agama mereka/perayaan mereka yang bertentangan dengan agama Islam.

Tambahan pada 20 Desember 2013

5. Fatwa dari Dr. Ali Jum’ah (Mufti Agung Mesir)

There is no legal impediment to participating in celebrating the birth of Jesus (peace be upon him). Islam is an open system and its followers believe, respect and honor all the prophets and messengers, and treat the followers of other religions with kindness in accordance to the words of God the Almighty:

And dispute ye not with the People of the Book, except in the best way. [Al-‘Ankabut, 46]

Jesus the son of Mary, peace be upon him, is one of the Prophets who are characterized with determination, resolution and patience. Prophet Muhammad [pbuh] said: “I am more entitled to Jesus the son of Mary than anyone in this life and in the Hereafter; no prophet has been sent between us.”  Every Muslim believes that Jesus is a human prophet who performed great miracles, such as reviving the dead and curing the sick by the will of God the Almighty.

This was not because he was a god or the son of God in the sense of physical procreation—God is exalted above this. Celebrating the day of the birth of Jesus is an act of belief regardless of Christian convictions in his regard. Therefore, participate in your friends and family’s celebrations, eat with them and refrain from eating pork and drinking alcohol with tact and civility. Do not pay any attention to anyone who wants to ruin the relation between you and your family and others in the name of Islam because Islam is free from all of this.

Menurut Dr. Ali Jum’ah tersebut, merayakan natal, bukan hanya mengucapkan selamat natal tidak ada larangannya di dalam agama Islam, bahkan jika keluarga kita merayakan natal dan kita berada ditengah mereka, kita boleh makan dan minum tetapi dengan ketentuan tetap menjaga keyakinan kita untuk tidak ikut makan dan minum hal-hal yang diharamkan dalam Islam.

6. Fatwa dari Prof. Dr. Quraish Shihab

Dalam rangka interaksi  sosial  dan  keharmonisan  hubungan, Al-Quran  memperkenalkan  satu  bentuk redaksi, dimana lawan bicara   memahaminya   sesuai    dengan    pandangan    atau keyakinannya,   tetapi  bukan  seperti  yang  dimaksud  oleh pengucapnya. Karena, si  pengucap  sendiri  mengucapkan  dan memahami   redaksi   itu   sesuai   dengan   pandangan   dan keyakinannya. Salah  satu  contoh  yang  dikemukakan  adalah ayat-ayat   yang   tercantum  dalam  QS  34:24-25.  Kalaupun non-Muslim memahami ucapan “Selamat  Natal”  sesuai  dengan keyakinannya,  maka  biarlah  demikian,  karena  Muslim yang memahami akidahnya akan mengucapkannya sesuai  dengan  garis keyakinannya.   Memang,  kearifan  dibutuhkan  dalam  rangka interaksi sosial.   Tidak kelirulah, dalam kacamata ini, fatwa dan larangan itu, bila  ia ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan ternodai akidahnya.   Tetapi,   tidak   juga   salah   mereka    yang membolehkannya,  selama  pengucapnya bersikap arif bijaksana dan  tetap  terpelihara  akidahnya,  lebih-lebih  jika   hal tersebut merupakan tuntunan keharmonisan hubungan.

Pendapat tersebut dapat diperiksa di dalam bukunya “Membumikan Al Quran”. Menurut ulama Islam asal Indonesia ini, titik tekan pengucapan selamat natal pada keharmonisan hubungan antar pemeluk agama di masyarakat. Menurutnya jika mengucapkan selamat natal untuk menjaga keharmonisan hubungan, sepanjang itu tidak melunturkan akidah, tidaklah apa.

Semoga dengan dibuatnya posting ini bermanfaat bagi para pembaca dan juga sebagai rem agar tidak asal njeplak ketika berkomentar terhadap sebuah permasalahan. Bagaimana dengan saya? Saya pribadi, dengan mengucapkan selamat natal ke teman saya yang merayakan natal tidak menjadikan saya murtad atau bahkan mengikuti akidah teman saya itu. Jikalau ada yang berpendapat bahwa dengan mengucapkan selamat natal mengakibatkan akidah berubah, saya tidak mempermasalahkan juga karena itu kebebasan berekspresi dia, yang penting jangan memaksakan (baik secara langsung maupun tipu-tipu secara halus)  pendapat dia (yang mengharamkan itu) kepada orang-orang yang membolehkan. Kalau masih memaksakan, saran saya sebaiknya cari psikiater terdekat.

Selamat natalan ya teman-teman yang merayakannya!

nb: tulisan ini merupakan perbaikan tulisan dengan tema yang sama pada tahun 2009.

18 thoughts on “Fatwa-fatwa tentang Selamat Natal

  1. keren nih… nambahin opini gw ah..

    Fatwa MUI sendiri hanya mengharamkan mengikuti upacara/ritual Natal, which is emang sudah seharusnya karena itu udah masuk ke bagian ritual peribadatan. Mengenai ucapan selamat, gak ada fatwa larangan (mungkin MUI pun masih memandang adanya perbedaan ijtihad dalam hal ini, jadi mending “dipending”). Eniwei, kalo liat pernyataan KH Ma’ruf Amin yang diangkat media (tempo kalo gak salah), sebenernya gak menyalahi fatwa itu, karena beliau sendiri bukan melarang, hanya menyarankan secara pribadi untuk “tidak mengucapkan” karena dia berpandangan hal yg masih debatable/diragukan/syubhat sebaiknya dihindari.

    IMHO media/para seleb aja yg terlalu reaktif. Lalu akhirnya melebar dengan menghina/melecehkan/membully MUI (padahal ya salah alamat) dan orang yang berpegang ke pendapat “gak ngucapin”.

    Tentang Salafy, ah speechless gw ama kelompok ini. Secara agama, mereka emang sangat mendalami dan gw yakin niat mereka emang pasti tulus untuk kebenaran. Tapi, kadang (kalo gak bisa dibilang seringnya) terlalu taklid buta ama ulamanya sendiri, jadi mengesampingkan adanya khilafiyah ataupun perbedaan ijtihad sesama umat. Ibarat katak dalam tempurung, pokoknya setiap yang beda ama mereka berarti salah. I mean, dalam hal ini bolehlah mereka tetap berpegang ke pendapat “gak boleh ngucapin”, tapi mbok ya nerima aja gitu kenyataan bahwa ulama Muslim lain, bahkan dari kelompok besar pula (selain Qaradawi dkk, organisasi macam IM pun udah secara personal tokoh2nya sudah mengucapkan Selamat Natal, atau setidaknya NU-Muhammadiyah di indon) umumnya udah ikut berijtihad untuk membolehkan pengucapan selamat ini.

    Karena yang “gak ngucapin” dan yang “ngucapin” sama2 lebay, ya jadilah debat kusir2 tentang Selamat Natal ini setiap tahun.. Yeah, this is Indonesia

    1. Hidup mas Ichanx..
      Saya dulu pernah pakai acara merenung segala buat mutusin ngucapin apa enggak lho.
      Biarpun lebih baik dihindari, tapi kalau sama saudara dekat atau sahabat dekat rasanya penting untuk tetap menjaga silaturahmi, bagaimanapun kita kan hidup di Indonesia🙂

  2. Soal ‘halal-haram’ pemberian ucapan selamat Natal ini sudah jadi debat tahunan. Tiap tahun, di status twitter/facebook pasti ada perdebatan tentang ini, sampe bosen. Dulu saya juga pernah menulis tentang topik semacam ini, cerita tentang masa kecil saya bersama keluarga, tentang toleransi antara keluarga saya yang muslim dan murid-murid kolintang ayah saya yang kebanyakan dari kalangan gereja. Bagaimana mereka sangat perhatian ketika kami mengalami kesulitan, begitu juga sebaliknya. Cerita saya itu sempat diprotes oleh salah satu teman yang katanya ya gitu deh, intinya nggak boleh mengucapkan selamat Natal ke penganut agama lain berdasarkan fatwa MUI, padahal ketika saya ubek-ubek nggak ada yang secara spesifik mengatakan “nggak bolehl atau “haram”.
    Semoga dengan artikel ini banyak yang ‘sedikit’ tercerahkan ya..

  3. Apik Sam…. tak culik referensi sampeyan… supaya ikut mencerahkan dan mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia.

    Teman saya juga bilang gini, “lha iya, wong cuman bilang Selamat Natal, ndhak lebih dari 2 detik, mosok dianggap murtad?? apa bedanya dengan mengucapkan Selamat Nyepi, Selamat Galungan, toh aku ndak iku misa, aku ndak ikut ritual di pura”

  4. Mengucapkan “selamat natal” tidak menjadikan kita otomatis sebagai umat beragama yang lebih bertolerasi. Begitu juga kalau tidak mengucapkannya bukan berarti kita tidak bertolerasi beragama.

    Melihat adanya begitu banyak perbedaan pendapat mengenai hal ini..dan kekuatan hukum tentang pengucapannya lahir dari ijtihad. Saya berpendapat masalah ini lebih ke arah syubhat…dan karena sifatnya syubhat, maka saya tidak melakukannya.

      1. “…Barangsiapa yang menghindari syubhat itu berarti dia telah membersihkan diri untuk agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus ke dalam syubhat itu berarti dia terjerumus ke dalam perkara yang haram…” – Riwayat al-Bukhari dan Muslim

  5. Saya membaca nuansa tulisan ini justru menghakimi orang yang melarang orang mengucapkan selamat natal. Baik itu dengan kata memalukan, salah kaprah, asal njeplak, hingga disarankan ke psikiater terdekat. Lho, kok malah ngawur begitu ya, berbanding terbalik dengan semangat toleransi yang seolah2 digembar-gemborkan.

    Kalau tidak sepaham dengan larangan mengucapkan selamat natal, ya sikapi dengan bijak, jangan malah menghakimi itu tidak benar. Tunjukkan toleransi yang sesungguhnya, jangan asal njeplak. Lho, saya malah ikut2an.

    Saya sendiri tidak mempermasalahkan muslim yg mengucapkan selamat natal, termasuk juga muslim yg ingin makan babi. Silakan saja, memangnya dosa/pahala mereka saya yg tanggung? Contoh dari Nabi Muhammad sendiri bagaimana? Bukankan agama Kristen lahir sebelum Islam? Bahkan menjadi perdebatan panjang apakah Nabi Isa lahir (atau mati?) di tanggal 25 Desember. Banyak riwayat yg menyebutkan Natal adalah aliran Paganisme bawaan dari Romawi.

    Saya termasuk yg tidak setuju muslim ikut mengucapkan selamat natal. Dalam pergaulan sehari2, cukuplan diucapkan selamat liburan, selamat tahun baru, malah secara bercanda selamat lebaran (yg tidak dilarang toh). Mereka sudah paham atau buatlah mereka paham dan menghormati bahwa saya tidak melakukan itu.

    1. Saya membaca nuansa tulisan ini justru menghakimi orang yang melarang orang mengucapkan selamat natal. Baik itu dengan kata memalukan, salah kaprah, asal njeplak, hingga disarankan ke psikiater terdekat. Lho, kok malah ngawur begitu ya, berbanding terbalik dengan semangat toleransi yang seolah2 digembar-gemborkan.
      Kalau tidak sepaham dengan larangan mengucapkan selamat natal, ya sikapi dengan bijak, jangan malah menghakimi itu tidak benar. Tunjukkan toleransi yang sesungguhnya, jangan asal njeplak. Lho, saya malah ikut2an.

      —–

      Justru saya yang melihat anda menghakimi tulisan saya, tunjukan kepada saya bahwa saya menghakimi orang yang melarang mengucapkan selamat natal dengan kalimat “memalukan, salah kaprah, asal njeplak, dan menyarankan orang yang sekedar melarang mengucapkan natal agar ke psikiater”🙂

    2. Quote-1:
      Saya sendiri tidak mempermasalahkan muslim yg mengucapkan selamat natal, termasuk juga muslim yg ingin makan babi.

      Quote-2:
      Saya termasuk yg tidak setuju muslim ikut mengucapkan selamat natal.

      Bingung kan? X-|

  6. Kan hanya sekedar ucapan (yang penting tidak ikut serta merayakan)dalam agama islam juga menganjurkan toleransi dan saling menghargai sesama dan berlaku adil…

  7. Klo sy kpd ttangga& tmn2 say: met bergembira brsama keluarga ya Pak/Bu & met thn baru smoga ALLOH TA’ALA sll berikan PetunjukNYA pd qt semua

  8. Maaf mau tanya tentang fatwa yang membolehkan ucapan selamat natal, terutama rujukan dari Syeikh Al Qaradhawi. Menurut teman saya, fatwa Syeikh termaktub di kitab Fikih Minoritas. Artinya, ucapan tersebut bisa disampaikan dalam situasi muslim sebagai minoritas atau terancam secara pribadi, seperti karir, harta, nyawa, dsb.
    Pertanyaannya, apakah fatwa Syeikh tersebut berlaku general (semua muslim di dunia) atau seperti yang dikatakan teman saya?

    terima kasih atas penjelasannya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s