Posted in Uncategorized

RUU KUHP: Tindak Pidana Santet?

Konsep Kitab Undang-Undang Hukum Pidana telah sampai di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Setelah beberapa tahun tidak terdengar kabar, akhirnya rancangan tersebut dibahas  bersamaan dengan Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (RKUHAP). Beberapa hari yang lalu, media memberitakan bahwa di dalam Konsep terdapat formulasi yang memidanakan santet, dikenal dengan delik santet/tindak pidana santet. Sepanjang yang penulis tahu, mulai dari Konsep KUHP yang disusun Lembaga Pembinaan Hukum Nasional (LPHN) sampai Konsep KUHP 2012 yang diserahkan ke DPR, tidak ada yang memidanakan jenis perbuatan-perbuatan metafisika, dalam artian bahwa terdapat kriminalisasi terhadap jenis perbuatan metafisika seperti santet.

Satu-satunya formulasi yang mendekati apa yang diberitakan oleh media adalah formulasi mengenai penawaran untuk melakukan tindak pidana sebagai berikut:

Pasal 293

 (1) Setiap orang yang menyatakan dirinya mempunyai kekuatan gaib, memberitahukan, memberikan harapan, menawarkan atau memberikan bantuan jasa kepada orang lain bahwa karena perbuatannya dapat menimbulkan penyakit, kematian, penderitaan mental  atau  fisik seseorang, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Kategori IV.

 (2)   Jika pembuat  tindak  pidana sebagaimana  dimaksud pada ayat (1) melakukan perbuatan tersebut untuk mencari keuntungan atau menjadikan sebagai mata pencaharian atau kebiasaan, maka  pidananya  dapat ditambah dengan 1/3 (satu per ­tiga).

Berdasarkan formulasi tersebut, maka yang menjadi sasaran hukum pidana bukanlah perbuatan menyantetnya, tetapi perbuatan menawarkan kepada seseorang bahwa pelaku mempunyai kekuatan ghaib yang dapat membuat celaka seseorang. Contoh mudahnya adalah ketika seseorang mengiklankan di internet atau media massa bahwa ia memiliki kekuatan ghaib dan dapat membuat orang lain celaka karenanya. Kurang cermatnya memahami formulasi tersebut yang menyebabkan kesalahpahaman beberapa kalangan ketika menanggapi Konsep KUHP. Menurut Barda Nawawi Arief dalam bukunya Bunga Rampai Hukum Pidana, salah paham mecermati formulasi Konsep KUHP tersebut dikarenakan formulasi pasal tersebut agak samar. Sehingga tidak mudah ditangkap maksud perbuatan yang dilarang.

Apakah formulasi tersebut seperti mengembalikan masyarakat Indonesia ke zaman Majapahit karena dianggap mengadopsi KUHP Majapahit seperti pernah disinggung oleh beberapa kalangan? Untuk menjawab hal tersebut, saya akan kutipkan tindak pidana di dalam KUHP Majapahit sebagai berikut:

Pasal 13

Barang siapa menulis nama orang lain di atas kain orang mati atau di atas peti mati, atau di atas dodot jang berbentuk boneka, atau barangsiapa jang menanam boneka tepung yang bertuliskan nama di kuburan, menjang-sangkanja di atas pohon, di tempat sangar, atau didjalan silang, orang jang demikian itu sedang mendjalankan tenung jang sangat berbahaja. Barangsiapa menuliskan nama orang diatas tulang, diatas tengkorak dengan arang, darah, dan trikatuka dan kemudian merendamnja didalam air, atau menanamnja di tempat penjiksaan, perbuatan itu disebut menenung. Barang siapa berbuat demikian, dikenakan hukuman mati oleh radja jang berkuasa. Apabila perbuatan itu terbukti, anak tjutju, ibu bapa, semuanja jang masih tinggal tidak akan dibiarkan hidup, demi keselamatan negara.

KUHP Majapahit mengkriminalisasi jenis-jenis perbuatan metafisika, yaitu dengan disebutkan unsur-unsur perbuatan metafisika tersebut dalam formulasi tindak pidana. Berdasarkan hal tersebut, maka tidak tepat sekiranya menyamakan rumusan penawaran tindak pidana pada Konsep KUHP dengan KUHP Majapahit karena secara substansi sudah berbeda. Selanjutnya, apakah formulasi tersebut merupakan hal baru di Indonesia?. Pada Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch-Indie yang dikenal sebagai KUHP di Indonesia, memang terdapat pembahasan tersendiri mengenai ketentuan yang mirip dengan Konsep KUHP tersebut, yaitu tindak pidana menjual, menawarkan, menyerahkan, membagikan persediaan untuk dijual/dibagikan, jimat atau benda ghaib dan tindak pidana memakai jimat dipersidangan (Pasal 546 dan 547 KUHP). Berdasarkan Pasal 546 dan Pasal 547 KUHP, maka yang dipidana adalah memakai jimat saat persidangan, bukan jenis-jenis jimat dan cara kerja jimat.

Menarik untuk dicatat, bahwa perumusan mengenai jimat tersebut hanya ada di dalam KUHP-WvS yang dipakai di Indonesia. KUHP Belanda baik dulu maupun sekarang tidak memiliki rumusan tersebut. Pertanyaannya, mengapa KUHP yang dibuat oleh Belanda untuk Hindia Belanda (sekarang Indonesia) memiliki rumusan jimat?

Penulis mengetahui bahwa perumusan tersebut tidak ada di KUHP Belanda setelah bertanya kepada Nico Keijzer, ahli hukum pidana Belanda yang dahulu sering memberikan penataran hukum pidana terhadap para dosen hukum pidana di Indonesia. Kepada Nico Keijzer penulis bertanya dua hal, yaitu: apakah alasan Belanda membuat rumusan tersebut dan apakah ada persamaannya di dalam KUHP Belanda. Berikut pendapatnya:

The legislature wanted to prevent witnesses from believing that by carrying jimat they could safely commit perjury. These articles have never had an equivalent in the Criminal Code of the Netherlands. Apparently, the articles were especially included in the KUHP because of sensitivities and beliefs some people might have in Indonesia.

Berdasarkan pendapat Nico Keijzer tersebut, maka alasan Belanda ketika menyusupkan pasal “jimat” untuk mengkriminalisasikan perbuatan yang sesuai dengan konteks sosial di Hindia Belanda saat itu. Hal senada juga terungkap di dalam Boekoe Strafwetboek voor Inlanders: Kitab Kaadilan Hoekoeman Boewat Anak Negri tahun 1911 sebagai berikut:

Beberapa kali soedah kadjadian, orang-orang bikin roesoeh atau mendjalankan kadjahatan doerhaka atau soempah palsoe di hadapan Hakim atau di hadapan pengadilan, sasoedahnja dia dapat pengadjaran dari orang-orang jang mengadjar ilmoe-ilmoe itoe. Satijap kali kadjadjijan begitoe roepa maka tijap-tijap kali djoega di njatakan bahwa orang-orang, jang bikin roesoeh atau jang soempah palsoe itoe, membawa atau pakai djimat-djimat atau penangkal. Dari itoe di nadakan katentoewan-katoentoewan seperti terseboet di dalam fasal 546 dan 547. Fasal 547 di adakan dengan maksoed akan menegahkan orang membawa djimat djika dia misti menghadap di hadapan Hakim atau di hadapan pengadilan akan mengeloewarkan kasakjian dengan bersoempah, sebab soedah seringkali kadjadijan di Hindia Nederland, orang, jang di persidangan dari madjelis hoekoem mengaloewarkan kasakjian dengan berdoesta, kadapat membawa djimat jang di semboenjikan olihnja baik di dalam setangan kapala baik di dalam ikat pinggangnja atau tali pending.

Berdasarkan keterangan dari Nico Keijzer dan Boekoe Strafwetboek tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa menyusupnya pasal tersebut dikarenakan situasi Hindia Belanda saat itu banyak orang yang berani bersumpah palsu di persidangan karena memakai jimat yang dianggap dapat menghindarkan orang yang bersumpah palsu dari akibat bersumpah palsu, seperti laknat atau akibat buruk dari kepercayaan yang mereka yakini. Hal itu sangat wajar mengingat jika seseorang bersumpah palsu maka akan menghambat pencarian kebenaran materiil di persidangan sehingga perlu dibuat ketentuan pidana terhadap orang yang memakai jimat.

Mencermati uraian Konsep KUHP dan contoh di dalam KUHP di atas, hukum pidana hanya mengkriminalisasikan perbuatan-perbuatan yang dapat dibuktikan berdasarkan hukum pidana formil yang berlaku, bukan mengkriminalisasikan substansi metafisika, karena tentu saja sangat sulit untuk membuktikan sebab akibat antara perbuatan metafisika dengan timbulnya akibat dari perbuatan tersebut.

2 thoughts on “RUU KUHP: Tindak Pidana Santet?

  1. Kalau misalnya nih ya, ada organisasi (bukan perorangan) yang memang bisa membuat orang lain celaka, dan dia merekomendasikan cara-cara tertentu ke anggotanya untuk mencelakai orang lain, berarti organisasinya bisa dituntut juga? Tapi organisasi itu nggak ngiklan, kalo dari sisi hukum pidana gimana cara menghukumnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s