Posted in Diary

Bismar Siregar dan Keadilan

Usia saya bertambah hari ini. Bertambahnya usia juga berarti jatah hidup di dunia berkurang 1 tahun. Setidaknya itu yang saya pahami ketika memaknai ulang tahun. Bertambahnya usia juga tidak menjamin seseorang lebih baik dari hari kemarin, tetapi bukan jaminan juga seseorang menjadi lebih buruk. Pada hari ini saya akan menceritakan secara singkat sosok yang bagi saya sangat spesial.

19 April 2012 yang lalu, seorang ahli hukum pidana dan mantan hakim agung Mahkamah Agung Indonesia, menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia 83 tahun. Siapa tak kenal Bismar Siregar? Hakim yang sangat berani dan terkenal putusannya  bikin merinding para terdakwanya.

Konon, pada tahun 1983, saat menjadi hakim di Pengadilan Tinggi Medan, Bismar Siregar melakukan gebrakan yang berani pada zamannya. Melalui putusan Pengadilan Tinggi Medan No. 144/PID/1983/PN/Mdn yang masyhur itu, ia melakukan analogi barang yang termasuk di dalam Pasal 378 KUHP sama dengan “kelamin” wanita, demi sebuah keadilan. Tak urung, karena putusan ini terjadi pro dan kontra. Banyak pihak tidak sependapat dengan putusan tersebut.

Bismar

Kasus tersebut pada pokoknya mengenai seseorang yang menjanjikan akan menikahi seorang gadis (perawan) setelah ia melakukan hubungan dengannya. Tetapi setelah terjadi hubungan tersebut, sang pria ingkar janji sehingga sang gadis (yang sudah tidak perawan itu) merasa kecewa dan merasa ditipu oleh pria yang bernama Mertua Raja Sidabutar. Jaksa, menuntut dengan beberapa pasal, salah satunya pasal 378 KUHP tentang penipuan.

Saya sendiri belum pernah membaca putusan Pengadilan Tinggi Medan tersebut sehingga tidak bisa berkomentar banyak soal konstruksi hukum dalam putusan tersebut, tetapi ia pernah menjawab tudingan orang-orang yang saat itu menyerangnya

Saat ini, saya melihat banyak sarjana hukum kita yang selalu berpijak kepada hukum formal..kalau bertumpu kepada hukum formal belaka, maka hanya kepastian hukum yang diutamakan, sehingga kalau tidak ada undang-undangnya, maka hukum tidak bisa dilaksanakan…ini harus ditinggalkan..kepastian hukum bukan merupakan tujuan dan hanyalah sarana. Tujuan kita adalah rasa keadilan.

Kebetulan dalam upaya saya mengangkat rasa keadilan ini, saya mendapatkan perkara yang bagus. Dalam kasus pelanggaran susila Jaksa mencantumkan pasal 378, sampai akhirnya saya memperluas pengertian “barang” menjadi sama dengan jasa dan selanjutnya memasukkan kehormatan sebagai benda. Hal ini rupanya juga telah memberi peluang bagi saya untuk melindungi kaum wanita dan menjaga nilai kehormatan itu sendiri. Tuhan benar-benar memberi kesempatan kepada saya, sehingga pasal 378 itu dicantumkan. Kalau tidak, maka saya pun tentu tidak akan bisa berbuat apa-apa.

…Dalam kasus Medan, karena ada perjanjian, maka si wanita mau memberikan kehormatannya. Tetapi kemudian si laki-laki ingkar janji, bukankah ini suatu penipuan?

Padahal kehormatan merupakan barang yang sangat saya hargai.

Perkembangan yang saya lakukan ini sebenarnya sangat wajar dan harus dilakukan demi perlindungan hukum bagi wanita..

Konstruksi keadilan yang dilakukan oleh Bismar ketika mutus perkara tersebut adalah dengan menggunakan analogi, karena di dalam KUHP yang berlaku saat ini di Indonesia, tidak ada undang-undang atau pasal di dalam KUHP yang dapat menjerat pelaku seperti di dalam kasus Medan. Memperluas makna “barang” meliputi kehormatan wanita jelas merupakan analogi, bukan lagi penafsiran ekstensif.

Menurut Prof. Satjipto Rahardjo, Bismar menggunakan nuraninya ketika memutus sebuah perkara, nurani seorang hakim. Jika ia dihadapkan kepada sebuah kasus, ia bertanya kepada nuraninya terlebih dahulu tentang salah atau benar, baru Bismar cari rumusan dalam undang-undang yang ada, jika tidak ditemukan, sebagai hakim, ia buat penafsiran. Keadilan yang diutarkan Bismar, bukanlah keadilan formil dengan melulu melihat pada ada atau tidak hukum yang mengaturnya, tetapi kepada keadilan substansi.

Ironi keadilan memang masih menjadi masalah besar dan akut di Indonesia (ingat kasus mbok Minah?). Selain karena terpukau oleh “kaca mata kuda” melihat formalitas sebuah hukum, uang “panas” dari para aktor kejahatan dan kroninya selalu menghiasi peradilan Indonesia. Apakah negara ini semakin kacau atau semakin baik, penegakan hukum semakin adil atau semakin tebang pilih. Wallahu ‘alam.

19 April 2013

Sam.

Ditulis di Paragon Mall.

foto diambil dari: http://id.iluni-fhui.com/files/profile_alumni/09102012172726.jpg

3 thoughts on “Bismar Siregar dan Keadilan

  1. Selamat Ultah, semoga dapat memanfaatkan sisa umur yg ada dgn sebaik-baiknya… Aamiin. “Kekacauan bermula ketika hukum berakhir”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s