Posted in masyarakat

Edisi Kemerdekaan: Asal Muasal Nama “Ahmad Sukarno”

Kali ini saya tidak akan membahas cybercrime atau hal-hal yang berkaitan dengan itu. Selain masih dalam suasana hari kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, adalah bermanfaat jika membahas salah satu tokoh yang berperan dalam proklamasi kemerdekaan . Tokoh tersebut adalah Ir. Sukarno yang dikenal dengan sebutan “Bapak Proklamasi”.

Ir. Sukarno sendiri oleh dunia internasional, khususnya negara-negara Timur Tengah, dikenal dengan nama Ahmad Sukarno. Pertanyaan yang mungkin ada di dalam pikiran kita, “mengapa ada tambahan “Ahmad” pada nama Sukarno?”, bukankah sejak SD sampai saat ini presiden pertama Indonesia namanya hanya “Sukarno” tanpa tambahan embel-embel “Ahmad” di depannya?

Penjelasan mengenai hal ini dapat ditemukan di dalam buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” karangan seorang diplomat Indonesia di Mesir yang gigih memperjuangkan pengakuan kemerdekaan Indonesia di Mesir, Muhammad Zein Hassan Lc.Lt.

Saat itu, beberapa waktu setelah pembacaan teks proklamasi, mahasiswa Indonesia di Mesir mendengar kabar bahwa proklamasi telah dibacakan oleh Sukarno dan Hatta di Jakarta dari sumber yang terbatas. Berdasarkan informasi yang setengah-setengah alias alakadarnya ini, para mahasiswa Indonesia di Mesir menuliskan peristiwa proklamasi tersebut pada koran-koran di Mesir walaupun mereka sendiri tidak mengetahui secara pasti apa bunyi teks tersebut.

Muhammad Zein Hassan dan beberapa mahasiswa lainnya akhirnya membentuk Panitia “Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia” (cikal bakal Panitia Pembela Indonesia)-biasa disebut Jam’iyatul Istiqlali Indonesia-disingkat PKI yang berpusat di Mesir guna meraih simpati atas perjuangan Indonesia melawan penjajah. Hubungan keakraban mereka dengan partai-partai di Mesir, media, dan petinggi Mesir sudah terjalin baik sehingga langkah awal konsultasi dengan para stakeholder di Mesir berjalan baik. Atas usul ahli hukum internasional Muhammad Salahuddin Pasya (Sekjen Liga Arab), tugas utama panitia tersebut adalah meraih simpati dan dukungan atas kedaulatan Indonesia secara “de facto” di luar negeri dari perwalian Belanda.

perkumpulan

Guna menjaga koordinasi Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia di beberapa negara lainnya, maka dibentuklah cabang-cabang Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia yang mempunyai misi sama, yaitu menyebarkan berita kemerdekaan dan mengadakan pertemuan dengan pemerintah setempat guna meraih dukungan. Dikemudan hari atas kegigihan para “diplomat” untuk memperjuangkan kedaulatan Indonesia tersebut, dibentuklah Panitia Pembela Indonesia yang beranggotakan para petinggi Mesir, Liga Arab, akademisi, Ikhwanul Muslimin dan elemen lainnya pada 16 Oktober 1965. Panitia Pembela Indonesia sendiri diketuai oleh Jenderal Saleh Harb Pasya. Panitia Pembela Indonesia bukanlah monopoli kelompok tertentu melainkan gabungan seluruh elemen masyarakat Mesir dan mahasiswa Indonesia.

pembela-indonesia

Kembali kepada asal usul nama Ahmad Sukarno. Muhammad Zein Hassan dan rekan-rekannya menggunakan pendekatan solidaritas keagamaan dalam meraih dukungan elemen dari Mesir maupun negara lainnya. Permasalahannya selanjutnya adalah bagaimana meyakinkan negara-negara di Timur Tengah bahwa pemimpin Indonesia adalah seorang muslim, seperti penuturan dari Muhammad Zein Hassan pada halaman 62 bukunya sebagai berikut:

Sementara itu dari semula propaganda kami di Timur Tengah memang ditujukan pada pencetusan sentimen seagama yang ternyata sangat efisien dalam menarik sokongan mereka atas dasar solidaritas Islam. Pada hari-hari pertama adalah keharusan bagi kami setiap kali disebut nama “Sukarno” untuk menjawab pertanyaan: “Apakah ia Muslim?” Buat Bung Hatta sudah ada tanda “Muhammad”. Maka terkhatir dalam hati kami kenapa tidak kami tambahkan saja “Ahmad” pada pangkal “Sukarno”…Demikianlah pada suatu wawancara dengan seorang wartawan Mesir, pertanyaan seperti di atas itu saya jawab dengan seolah-olah tercengang: “Kenapa tidak Muslim? Bukankah nama lengkapnya ‘Ahmad Sukarno’.

Presiden Sukarno kala itu juga menerima untuk menggunakan nama tambahan “Ahmad” dalam hubungan surat-menyurat resmi dari dan ke Timur Tengah. Tambahan nama Ahmad itu juga Muhammad Zein Hassan jelaskan kepada Presiden Uni Soviet kala itu, Voroshilov, yang mengunjungi Surabaya dan menanyakan tambahan nama “Ahmad’ di depan nama Sukarno.

Berdasarkan strategi diplomasi itulah hingga kini, negara-negara di Timur Tengah mengenal Ir. Sukarno dengan nama Ahmad Sukarno, bahkan di Mesir terdapat sebuah jalan dengan nama Ahmad Sukarno.

Sumber foto Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia dan Panitia Pembela Indonesia: Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri, hal. 55 dan 67.

One thought on “Edisi Kemerdekaan: Asal Muasal Nama “Ahmad Sukarno”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s