Posted in Diary

Soal Tawuran Siber

Majalah TIME edisi 1995 pernah mengulas wacana Amerika Serikat membuat pasukan untuk menanggulangi serangan terhadap jaringan telekomunikasi dan internet Amerika. Wacana itu memunculkan sebuah istilah baru kala itu, mereka menyebutnya “Tentara Siber” atau dalam istilah asli “Cyber Soldier“.

Munculnya wacana tersebut diakibatkan menyebarnya virus komputer oleh para peretas yang dapat menghambat kinerja pemerintahan dan bisnis di Amerika Serikat. Menurut mereka penyebaran virus ini dapat menciptakan sebuah medan pertempuran baru dikemudian hari. Mereka menyebut potensi ini sebagai Information War (Infowar). Potensi ini membuat Amerika melalui National Security Agency (NSA) dan Central Intelligence Agency (CIA) melakukan pemantauan terhadap aktivitas telepon, email, dan segala informasi yang keluar dan masuk jaringan strategis milik Amerika Serikat. Bahkan CIA melakukan operasi klandestin dengan memasang chip pada setiap perangkat elektronik dan persenjataan yang berpotensi mengakibatkan serangan terhadap Amerika. Operasi klandestin ini dikenal dengan istilah chipping. Operasi itu dilakukan terhadap beberapa pabrik senjata yang biasanya bertujuan untuk ekspor atau untuk digunakan di dalam negeri.

Infowar sendiri merupakan teknik baru (saat itu) untuk mengumpulkan segala jenis informasi yang berkaitan dengan peperangan. Tak hanya lewat pemasangan secara fisik chip, Pentagon sendiri saat itu sudah memiliki satelit, pesawat mata-mata (mungkin saat ini bisa sejajar dengan drone), dan sebuah pesawat bersensor yang dapat mendeteksi “musuh” di dalam tanah. Infowar sendiri berfungsi mendahului perang yang sebenarnya, terlibat dalam perang yang sebenarnya, bahkan mencegah peperangan. Pernah disimulasikan dalam sebuah latihan yang terdiri dari 20.000 serdadu yang dilengkapi peralatan canggih seperti komputer pendeteksi sinyal dan sensor untuk mendeteksi kekuatan musuh.

Letjen Jay Garner dari Army Space Strategic and Defence Command, Amerika Serikat pernah meramalkan bahwa kelak “pemimpin sebuah negara akan melakukan terlebih dahulu perang virtual (virtual war) sebelum mereka mendeklarasikan peperangan yang sesungguhnya”. Mereka akan melakukan simulasi terlebih dahulu menggunakan perangkat komputer untuk memperkirakan kemenangan atau kekalahan.  Negara tersebut akan melakukan pengumpulan informasi strategis. Menurut Steven Kent, seorang ahli keamanan informasi partikelir mengungkapkan salah satu aset untuk melakukan itu semua adalah hacker. Pada titik ini hacker dipandang sebagai “new mercenaries“.

Melihat contoh dari Amerika Serikat tersebut, information war, virtual war, atau cyber war sendiri bukanlah sebuah proses mudah dan simpel. Proses tersebut memakan banyak biaya, sumber daya manusia, dan tentu saja waktu jangka panjang dengan melibatkan banyak pertimbangan yang pada akhirnya akan dieksekusi oleh pemimpin sebuah negara. Dengan kata lain, perang virtual seperti ini bukanlah semudah menekan sebuah tombol untuk sekedar melakukan serangan DDoS atau melakukan website defacement.

Mencermati peristiwa beberapa minggu ini yang dibesar-besarkan oleh media kelas teri, ditengah gerbang akhir menuju Pemilu 2014, isu cyberwar kembali diungkit setelah beberapa gelintir orang yang mengaku hacker melakukan serangan terhadap website Australia. Menurut media kelas teri tersebut, cyberwar terjadi karena mengusung semangat juang dan nasionalisme (nasionalisme versi media tentunya) demi membela kehormatan Indonesia.

Saya mencoba menelusuri apakah memang Presiden Indonesia sudah mengeluarkan statemen bahwa situasi Indonesia dan Australia saat ini sedang dalam situasi perang. Ternyata tidak ada statemen dari presiden soal ini. Tak hanya itu, pakar telematika alumnus media baik yang ingin dikutip media dan bangga dikutip media karena bekas pejabat negara atau yang sedang ndompleng isu untuk mencari nama (ngaku pembina hacker pula) dengan bayaran 400.000 ribu-450.000 sekali tampil di Tv, juga latah mencampuri urusan yang bukan bagian dia. Klop sudah!

Melihat situasi seperti ini sebaiknya, sebagai warga negara yang awam informasi, menyerahkan segala sesuatunya kepada pihak-pihak yang berwenang. Untuk persandian dan kegiatan Intelijen serahkan saja kepada Lembaga Sandi Negara dan Badan Intelijen Negara yang memang kerjanya sering masyarakat tidak tahu, lha kan memang pekerjaan mereka “bekerja dalam senyap” atau jika memang berminat menjadi PNS formasi Sandiman dan PNS formasi Agen bisa ikut CPNS supaya bakat tersalurkan.😛

Jangan melebih-lebihkan tawuran siber menjadi isu serius dengan nama cyberwar tanpa tahu makna cyberwar dan latar belakang cyberwar. Sudah terlalu banyak masalah di Indonesia ini, jangan menambahi urusan yang lebih rumit karena kelabilan dalam memandang sebuah masalah yang sedang hangat dibicarakan.

Ditulis di antara langit dan bumi, 22 November 2013

Sam.

One thought on “Soal Tawuran Siber

  1. Masalah tawuran di ranah cyber itu cuman digadang-gadangkan oleh media massa, dan media massa saat ini berperan sebagai kompor meleduk.
    Untuk masalah cyber war sendiri, saat ini belum bisa di kategorikan kedalam itu, karena ga ada peran aparatur negara atw pemerintah.
    Dalam kasus sekarang, cuman akibat ulah sekelompok (yang mengaku) hacker nasionalisme dengan topeng yg karena issue penyadapan jadi terpancing untuk melakukan penyerangan atas nama Hacker Indonesia..
    mungkin kah mereka di domplengi seseorang ? who knows
    2014 udah dekat, mungkin ada yg butuh pencitraan di akhirnya :v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s