Posted in Diary, ilmu, masyarakat

Soal Kekacauan Buku Freemasonry di Indonesia

Saya sebenarnya malas mengulas buku Freemasonry di Indonesia: Jaringan Zionis Tertua yang Mengendalikan Nusantara. Versi asli buku ini dibelikan teman saya dari toko online Amazon. Ketika dia menawari saya apakah mau beli buku ini, saya jawab saja mau. Mengapa? Selama masih bisa ditelusuri aslinya lebih afdhol mendapatkan aslinya, selain itu tentu saja saya malas membaca versi e-book yang sudah diberi watermark sana dan sini (numpang tenar ya?) oleh pengunggah e-book tersebut.

Order 1

Order ibu Sophia

Malas saya cukup beralasan. Pertama, judul Freemasonry di Indonesia: Jaringan Zionis Tertua yang Mengendalikan Nusantara adalah judul yang overwhelming alias lebay. Saya katakan lebay karena judul aslinya adalah Freemasonry in Indonesia from Radermacher to Soekanto 1761-1961 adalah judul yang jelas, tanpa tendensi apa-apa, ketika diterjemahkan oleh seseorang dengan nama pena Jagat Purbawati, kata “Zionis” tiba-tiba muncul dengan tendensi Zionis menguasai tata negara Indonesia.

Kedua, buku Freemasonry di Indonesia ini yang tadinya merupakan paper ilmiah dari Center International Studies, Ohio University karangan Paul W van Der Veur berubah (baca: turun kasta) menjadi buku konspirasi kacangan karena penerjemah dengan sengaja menyisipkan kutipan-kutipan dari berbagai buku konspirasi. Standar “ilmiah” dengan seketika turun karena tercemar buku-buku tidak jelas. Ketiga, pembaca akan mendapati paper 35 halaman dalam bahasa Inggris tersebut disulap menjadi buku setebal 154 halaman dengan catatan penerjemah yang mendominasi buku tersebut. Cukup bagus sebagai media numpang tenar.

Hal paling parah adalah penerjemah telah gagal paham stadium akut karena kurang riset. Saya kutipkan dari halaman 137 buku tersebut:

Kita harus memahami kembali, menurut penerjemah, Soekarno lebih dekat dengan masyarakat tersembunyi Teosofi [rujuk buku Teosofi, Nasionalisme & Elite Modern Indonesia karya Iskandar P. Nugraha] dari pada Freemasonry. Kedua organisasi ini saling bersaing mencari pengaruh di Indonesia hingga detik ini. Kalaulah waktu itu Freemasonry dilarang, dan tidak sesuai dengan identitas nasional, mengapa Soekarno tidak melarang Teosofi yang juga memiliki hubungan erat dengan Freemasonry? Ingat, Teosofi berasal dari Adyar, India, dan tokoh-tokoh besar Teosofi, Helena Blavatsky, Annie Basant, Alice Bailey dalam buku Evolution Conspiracy karya Carl Matrisciana&Roger Oakland [hal. 205] disebutkan bahwa mereka sebagai Mason. Soekarno memang melarang Freemasonry dan Rosicrucian serta organisasi sejenis, namun tidak untuk Teosofi.

Pertanyaan mudah level pemula untuk berpikir kritis, bagaimana mungkin disebut “masyarakat tersembunyi” jika gedung bahkan tokoh-tokohnya mudah diketahui dan dikenali oleh khalayak ramai?. Selanjutnya pembaca dapat melihat penekanan penerjemah (yang saya sebut sebagai co-author bayangan) bahwa Soekarno tidak pernah melarang Teosofi di Indonesia. Sekali lagi perhatikan penekanan penerjemah, Teosofi tidak pernah dilarang oleh Soekarno.

Pertanyaan mudah level menengah untuk berpikir kritis, apakah benar Soekarno tidak pernah melarang?. Pada artikel sebelumnya, saya pernah menulis dan mengulas teori Hukum Tata Negara Baru Indonesia yang diciptakan oleh ahli Hukum Tata Negara Konspirasi, Rizki Ridyasmara, yang isinya untuk membubarkan Freemasonry dan beberapa organisasi lainnya Soekarno mengeluarkan lembaran negara. Luar biasa memang para fanboy…maaf…periset konspirasi ini. Alih-alih meriset dengan obyektif, malah gagal paham saja yang ditonjolkan.

Jawaban pertanyaan kedua dapat anda lihat pada gambar berikut:

Keppres1963-1

Keppres1963-2

Nah, para pembaca yang terhormat, hebat bukan riset yang telah dilakukan oleh “co-author” buku Freemasonry di Indonesia itu? Sangat ilmiah dan obyektif! Jika Soekarno tidak pernah melarang Teosofi di Indonesia, lalu Keputusan Presiden No. 54 Tahun 1963 itu apa? Lagi-lagi saya tidak heran, setelah tidak pernah membaca Keputusan Presiden No. 264 Tahun 1962, sekarang gagal paham juga Keputusan Presiden  No. 54 Tahun 1963. Saya acungi jempol untuk Jagat Purbawati..maaf, ketinggalan nama “Agung”nya, sekedar untuk memisahkan fakta dan mitos nama saja sih🙂

3 thoughts on “Soal Kekacauan Buku Freemasonry di Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s