Posted in ilmu, masyarakat

Tanggapan atas Tulisan Hendri F. Isnaeni “Sukarno Dipengaruhi Freemason”

Tulisan Hendri F. Isnaeni yang dimuat pada website Historia dengan judul “Sukarno Dipengaruhi Freemason” jika dibaca dengan seksama, memuat beberapa hal yang perlu dikaji ulang. Berikut adalah beberapa hal tersebut:

  1. Kutipan atas buku Dr. Theo Stevens

Saudara Hendri dalam artikel tersebut menulis dengan menggunakan kutipan langsung sebagai berikut:

“Berhubungan dengan pengangkatan Yang Mulia sebagai presiden pertama Republik Indonesia Serikat, Freemason dengan segala hormat mengucapkan selamat kepada Yang Mulia, dan menegaskan kepada Anda bahwa tujuan-tujuan RIS untuk melayani kemanusiaan, seluruhnya mendapat resonansi dalam asas-asas Freemason.”

Saya asumsikan saudara Hendri F. Isnaeni tidak menerjemahkan sendiri dari buku berbahasa Belanda yang ditulis oleh Dr. Theo Stevens. Ia hanya mengutip dari halaman 482 edisi terjemahan. Hanya menambah akhiran “an” pada kata “berhubungan” dan “mengucapkan” serta  mengubah “Tarekat Mason Bebas” menjadi “Freemason”. Silahkan merujuk kepada buku Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962 Saya menjadi gagal paham bagaimana sebuah kutipan langsung bisa diubah kalimatnya sesuai keinginan penulis. Kecuali memang saudara Hendri ingin menerjemahkan ulang seluruh konteks kutipan tersebut, dengan senang hati saya akan pindai kalimat asli berbahasa Belanda tersebut untuk diterjemahkan ulang. Agar tidak terkesan “copas”.

IMG_1030

2. Dasar Sukarno dipengaruhi Freemason

Saudara Hendri menulis dasar Sukarno dipengaruhi Freemason sebagai berikut:

Menurut Herry Nurdi, ustadz dan penulis buku-buku konspirasi dalam bukunya Jejak Freemason dan Zionis di Indonesia, pengakuan dari Pengurus Besar Provinsial bahwa dasar-dasar rumusan Sukarno (Pancasila) sama dan mendapat resonansi dalam asas-asas Freemasonry adalah bukti kuat bahwa ada kaitan, meski tak secara langsung, antara pemikiran Sukarno dengan doktrin Yahudi, terutama lewat Zionisme dan Freemasonry.

Saya menjadi tidak paham bagaimana saudara Hendri bisa sampai pada kesimpulan tanpa didahului adanya premis umum dan premis khusus. Ini adalah jumping to conclusions. Dasar bahwa Sukarno dipengaruhi Freemason adalah karena penafsiran dari seorang ustadz yang biasa menulis buku konspirasi dalam buku konspirasinya. Bayangkan saja!, mendasarkan suatu sejarah pada “katanya” ustadz dengan kekuatan pembuktian “meski tidak secara langsung”, dengan kata lain masih berupa prasangka. Konteks telegram sangat jelas bahwa adanya salah satu sila yang nilainya sama dengan nilai yang diusung Kemasonan adalah bentuk common platform, bukan akibat dari pengaruh Kemasonan. Dengan kata lain, Kemasonan ingin menjelaskan bahwa gerakan mereka bukan gerakan yang bertentangan dengan Pancasila!. Apakah jika di dalam Pancasila ada hal yang sama dengan asas-asas kemanusiaan yang diusung Freemasonry dapat disimpulkan bahwa Pancasila dipengaruhi Freemason? Apakah persamaan seperti itu dapat disebut sebagai bukti kuat?. Ada beberapa hal yang perlu dibuktikan setidaknya:

  1. Kapan Sukarno meminta saran gerakan Kemasonan ketika hendak merumuskan Pancasila?
  2. Bagaimana cara Kemasonan mempengaruhi Sukarno dalam merumuskan Pancasila?
  3. Siapakah dari anggota Kemasonan yang pikirannya dapat mempengaruhi alam pikiran Sukarno ketika hendak merumuskan Pancasila?

3. Keppres 264 Tahun 1962

Saudara Hendri menulis:

Pada 27 Februari 1961, tulis Van der Veur, “Sukarno benar-benar mengusir roh jahat yang berasal dari Rumah Setan dengan menandatangani UU Komando Militer Tinggi (lihat Keppres No. 264/1962, red) yang melarang organisasi Freemasonry ini. Pertimbangannya bahwa Freemasonry memiliki dasar dan sumber yang berasal dari luar Indonesia dan tidak selaras dengan kepribadian nasional.”

Saya asumsikan saudara Hendri hanya membaca halaman 124 terjemahan jurnal yang ditulis oleh Paul W. Van Der Veur yang judul aslinya adalah Freemasonry in Indonesia From Radermacher To Soekanto 1762-1961. Pertama, sudah tepat bahwa Paul W. Van Der Veur menulis pada tanggal 27 Februari 1961 dikeluarkan suatu Order of The High Millitary Command (seperti tertulis dalam jurnal aslinya). Permasalahannya adalah ketika diterjemahkan oleh Jagat Purbawati menjadi Undang-undang Komando Militer Tertinggi yang seharusnya diterjemahkan menjadi Peraturan Penguasa Perang Tertinggi (PEPERTI). Kedua, Redaksi Historia dalam hal ini membuat penjelasan bahwa diharapkan melihat (merujuk?) kepada Keppres No. 264 Tahun 1962 karena dibubuhkan tanda kurung. Sangat salah merujuk tanggal PEPERTI No. 7 Tahun 1961 tertanggal 27 Februari 1961 kepada Keppres No. 264 Tahun 1962 tertanggal 15 Agustus 1962. Tidak ada relevansinya sama sekali dan justru membingungkan pembaca karena jarak antara PEPERTI dengan Keppres adalah 1,6 tahun!. Tetapi bagi saya ini masih wajar ketimbang Rizki Ridyasmara (penulis buku konspirasi) yang menyatakan pelarangan Gerakan Kemasonan oleh Sukarno melalui Lembaran Negara.

Demikian tanggapan dari saya. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s