Posted in Diary, masyarakat

Soal Dialog Kemasonan dan Sukarno

Gerakan Kemasonan di Indonesia pernah menemui Presiden Sukarno di Istana Negara untuk menjelaskan apa dan bagaimana gerakan Kemasonan tersebut. Pengurus Besar Provinsial yang terdiri dari Wakil Ketua Pengurus Besar Provinsial Carpentier Alting, H.M.J Hart, Wisaksono Wirjodiharjo, dan Loa Sek Hie menjelaskan organisasi mereka karena presiden saat itu sudah sering mendengar organisasi mereka, meskipun ada beberapa yang negatif. Presiden berkenan menemui mereka pada tanggal 3 Maret 1950.

2016-01-28

Sukarno mengajukan beberapa pertanyaan dalam dialog yang berlangsung selama 1 jam tersebut. Pertanyaan-pertanyaan tersebut beriksar pada:

  1. Monotheisme ataukah Pantheisme
  2. Atheisme di dalam organisasi
  3. Pemikir bebas (vrijdenkers)
  4. Keanggotaan hanya pada orang-orang yang dihormati
  5. Mengapa menggunakan “bebas” (vrij) dan “tukang batu” (metselaren)
  6. Menolong sesama

Oleh para utusan tersebut dijawab poin per poin. Pertama, di dalam Kemasonan baik Pantheisme dan Monotheisme mendapat tempat, karena hakikatnya yang penting adalah percaya akan Kemahakuasaan Tuhan (Goddelijk Almacht). Kedua, penganut atheisme memilih untuk tidak bergabung dengan Kemasonan. Ketiga, Kemasonan respek atas segala pendapat para anggotanya dengan tidak mencampuri pandangan kepercayaan (religieuze opvatting) para anggotanya. Keempat, hal tersebut adalah salah paham dan sudah kadung tersebar di masyarakat. Kelima, hal itu merujuk kepada sejarah perkembangan tukang baru yang diidealkan sebagai pembangun sebuah bangunan, yaitu Kuil Humanisme. Bebas maksudnya adalah penghormatan akan kontribusi seseorang terhadap pembanganunan dengan tindakannya sendiri. Keenam, yang dimaksud menolong adalah menolong sesama Saudara, tetapi tidak menutup kemungkinan jika ada yang bukan anggota layak untuk dibantu.

Ada satu pertanyaan terakhir yang menutup seluruh rangkaian dialog Kemasonan dengan Sukarno. Seperti diketahui, dialog Sukarno dan Kemasonan disusun kembali oleh Paul W. van der Veur dalam papernya Freemasonry in Indonesia From Radermacher To Soekanto 1762-1961. Paper ini seperti pada artikel saya sebelumnya, merupakan paper ilmiah yang turun kasta menjadi buku konspirasi kacangan setelah diterjemahkan oleh Jagad Agung Purbawati dengan berbagai kutipan buku-buku konspirasi. Buku tersebut setelah diberi catatan yang tebalnya melebihi buku aslinya diterbitkan dengan judul “Freemasonry di Indonesia: Jaringan Zionis Tertua yang Mengendalikan Nusantara”

Khusus mengenai pertanyaan terakhir Sukarno, Jagad Agung Purbawati yang kabarnya berkonsultasi dengan pioner kajian konspirasi Agung Prabowo dari Kalibawang Yogyakarta (menurut pengakuannya, Agung Prabowo ahli kajian konspirasi dan lebih layak menerjemahkan paper) menerjemahkan sebagian paragraf dari paper pada halaman 121 sebagai berikut:

“Pertanyaan terakhir Presiden ialah apakah dirinya salah satu dari yang bersyarat sebagai zonderlinge vraag (yang istimewa): yakni..?”

Dalam paper yang sudah dibubuhi terlalu banyak buku konspirasi dalam setiap catatan yang dibuatnya di halaman 132-133, dia berkomentar:

“Dari alih bahasa kalimat di atas, penerjemah menemukan keganjilan dalam pernyataanya yang ada dalam buku asli, mengapa? Karena ditinjau dari segi kebahasaan terdapat penyataan yang tidak nyambung dengan kalimat setelahnya. Pertanyaan terakhir Presiden ialah apakah dirinya salah satu dari yang bersyarat sebagai zonderlinge vraag (yang istimewa)…Pertanyaan presiden Soekarno apakah ia termasuk dalam zonderlinge vraag (yang istimewa) dalam pandangan Mason seharusnya dijawab iya atau tidak, namun tidak didapati jawaban yang sesuai selain justru dijawab dengan kalimat pertanyaan lain…yang “tidak nyambung” dengan pertanyaan sebelumnya.”

Berdasarkan komentar tersebut, dia berusaha meyakinkan pembaca bahwa ada keganjilan dari buku asli yang menurutnya sudah dia terjemahkan dengan baik tersebut. Apakah benar? Untuk mengujinya maka kita perlu merujuk kepada buku asli sekedar untuk menyeimbangi Agung Prabowo..maaf..maksud saya Jagad Agung. Di dalam buku asli berbahasa Inggris kalimatnya tertulis sebagai berikut:

“The last question of the President was one himself qualified as a zonderlinge vraag (peculiar one):”Why do Indonesians still call the lodge rumah setan”

Tanpa harus menjadi seorang ahli bahasa Inggris dengan kemampuan TOEFL 900, para pembaca dapat memahami kalimat dalam bahasa Inggris di atas. Jika diterjemahkan secara literal, maka artinya adalah pertanyaan terakhir dari Presiden yang dia sendiri menggolongkannya zonderlinge vraag, pertanyaan selanjutnya, berasal dari bahasa apa zonderlinge vraag tersebut? Tentu saja dari bahasa Belanda. Nah jika sudah mengetahui bahwa kata tersebut adalah kata berbahasa Belanda, maka perlu diterjemahkan, dan arti dari zonderlinge vraag bukan “yang istimewa” melainkan “pertanyaan aneh”. Saya tidak tahu Jagad Agung Purbawati menggunakan Kamus Belanda-Indonesia terbitan universitas luar angkasa mana sehingga “pertanyaan aneh” menjadi “yang istimewa”. Selanjutnya yang membuat lucu adalah, sudah jelas dalam buku berbahasa Inggris terdapat keterangan “peculiar one” yang berarti “aneh” di samping kata zonderlinge vraag, mengapa bisa diterjemahkan “yang istimewa”? Apakah buku asli yang dibaca Jagad Agung merupakan buku asli yang berada di alam metafisika sehingga berbeda dengan cetakan yang penulis punyai?

Hal ini sangat bertentangan dengan kepercayaan dirinya yang sudah mengambil kesimpulan bahwa terdapat keganjilan dalam paper itu. Padahal jika memang Jagad Agung Purbawati mengerti sedikit saja Bahasa Inggris dan Bahasa Belanda, walau hanya dengan modal Google Translate, bukan kamus dari universitas luar angkasa, seharusnya kalimat paper tersebut dapat diterjemahkan: pertanyaan terakhir dari presiden yang dia sendiri menggolongkannya sebagai pertanyaan yang aneh. Nyambung bukan?. Jadi sebenarnya siapa yang tidak nyambung, Paul W. van der Veur yang menerjemahkan kalimat dari bahasa Belanda kepada bahasa Inggris, ataukah Jagad Agung Purbawati yang penuh keganjilan karena kebanyakan membaca buku konspirasi?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s