Posted in Pengajaran

Soal Rencana Ilahi: Sebuah Pengantar

Rencana ilahi harus dipahami sebagai manifestasi dari hukum ilahi (divine law). Hal ini dapat dianalogikan seperti matahari yang memancarkan sinar-sinar yang banyak jumlahnya, sinar tersebut mempunyai inti yang sama dengan matahari yang memancarkannya. Dengan demikian sinar tersebut dipancarkan dari hukum ilahi yang mempunyai isi sama dengan sumbernya, oleh karena itu sinar ini adalah hukum ilahi itu.

Hukum ilahi mendukung rencana ilahi. Hukum ilahi bersifat sangat mendasar dalam ruang lingkupnya, hukum itu sudah berlaku sebelum adanya jagat raya, hukum tersebut akan terus menjalankan fungsinya selama jagat raya berada dalam keadaan terbabar dan akan bekerja jika alam semesta berhenti bereksistensi. Hukum ilahi akan terus berlaku tidak peduli mansia, planet, matahari atau bahkan seluruh jagat raya berada dalam keadaan manifestasi atau non manifestasi, maka hukum itu adalah hukum-hukum ilahi. Hal itu dikarenakan hukum-hukum itu sama sekali tidak terjangkau oleh ruang dan waktu.

Terjadinya jagat raya (came into being) disebabkan oleh hukum-hukum yang menguasainya, maka segala sesuatu di dalamnya harus tunduk kepada hukum-hukum tersebut dan ikut serta dalam rencana ilahi, apa sebabnya? Karena sebagai bagian dari suatu keseluruhan ia harus mengikuti pola yang sama dengan pola yang dipakai oleh keseluruhan. Konsekuensi logisnya adalah, saya, anda, dan teman-teman kita merupakan bagian dari pola tersebut.

Mungkin para pembaca akan bertanya “ah masa’ saya bagian dari pola itu?”. Bukankah manusia merupakan “citra” dari Tuhan? Bukankah manusia mendapatkan ruh dari Tuhan? Bukankah manusia jaraknya dengan Tuhan tidak lebih jauh dari urat nadi? Jawaban pertanyaan seperti itu akan terjawab apabila kita bisa melihat dan melakukan penelaahan dengan cara berkontemplasi. Dengan demikian, manusia, merupakan bagian dari sebuah pola agung (grand design), permasalahannya adalah bagaimana kita sebagai manusia dan entitas lainnya bereksistensi dalam kosmos karena adanya rencana ilahi dan karena hukum-hukum ilahi yang mendasarinya.

Kosmos pada dasarnya juga melakukan evolusi untuk menjadi kosmos yang lebih baik, untuk menjadi harmonis dengan rencana ilahi. Kosmos mencerminkan suatu manifestasi Supreme Being dari suatu tatanan kosmis. Kosmos sendiri diperintah oleh suatu Logos Kosmis yang dikelilingi oleh suatu tataran ilahiah yang lebih rendah (lesser being), yang pada gilirannya mengatur hukum-hukum yang dapat diterangkan dalam lingkungan pengaruhnya. Mereka dinamakan Dhyani Chohan atau kecerdasan-kecerdasan ilahiah.

Tiap makhluk mempunyai dorongan kodrati untuk berusaha menjadi lebih harmoni dengan pelaksanaan ilahi, untuk senantiasa berusaha menjadi eksponen yang lebih mampu dari hukum-hukumnya, bahkan untuk hal-hal yang bertentangan dengan hukum-hukum ilahi tersebut. Namun dengan begitu, makhluk seperti itu hanya menempatkan dirinya di bawah ruang lingkup bekerjanya dia dari salah satu hukum itu, dengan fungsinya yang khusus akan mengubah dia menjadi benar, sehingga pada waktunya yang tepat dia akan belajar bekerja dengan harmonis dengan Hukum Agung dan tidak menentangnya.

Penjabaran di atas dapat dipetik suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya hukum-hukum ilahi itu ada. Selanjutnya adalah bagaimana cara mengetahui hukum-hukum ilahi itu dapat bekerja. Salah satu untuk mengetahui hal ini adalah dengan mempelajari pengungkapan-pengungkapan dari suatu ajaran kearifan purba (ancient wisdom) atau filsafat esoteris sebagai mana telah ditulis oleh H.P. Blavatsky dalam magnus opusnya yang berjudul The Secret Doctrine (Ajaran Tersembunyi). Sebelum lebih detail mengenai hal-hal yang berhubungan dengan hukum-hukum ilahi (akan dibahas secara tematis dalam artikel-artikel selanjutnya), setidaknya kita terlebih dahulu harus memahami 8 sifat hukum alam, yaitu:

  1. law of Periodicity (hukum periodisitas)
  2. law of adjusment (hukum penyesuaian)
  3. law of essential unity  (hukum kesatuan hal yang utama)
  4. law of self unfoldment (hukum perkembangan diri)
  5. law of motion (hukum gerakan)
  6. septenary law (hukum tujuh ganda)
  7. law of compassion (hukum kasih sayang)
  8. law of coming into being (hukum kemunculan suatu eksistensi)

Kita tidak tahu kapan jagat raya atau Kosmos tercipta. Penyelidikan dan penjabaran terhadap hal ini pada tataran bagaimana cara jagat raya terbentuk, kapan, dan mengapa terjadi pernah diungkapkan oleh seorang filosof ternama, Pythagoras, yang dikenal dengan titik Tetraktys atau biasa dikenal dengan titik empat suci. Pythagoras membuat susunan sebuah titik, paling atas adalah satu titik, baris kedua dua titik, baris ketiga berjumlah tiga titik, dan baris keempat berjumlah empat titik. Tetraktys ini menghasilkan Dekade atau 10 yang tunggal. Titik pertama adalah titik poin (point), titik kedua adalah garis (line), titik ketiga adalah permukaan (superficies), titik terakhir adalah kepadatan segi empat (solid or square). Jika kita melihat susunan titik yang dibuat oleh Pythagoras maka susunan titik tersebut akan membentuk gambar sebuah segitiga.

Titik paling atas melambangkan Satu, Monade. Titik kedua melambangkan Dua, Duade (dua serangkai). Titik ketiga melambangkan Tiga, Triade (tiga serangkai). Titik terakhir melambangkan Empat, Tetrade (empat serangkai). Kalau kita lakukan penjumlahan, maka 1+2+3+4=10 dan 1+0=1, maka angka-angka itu akan kembali menjadi 1. Hal seperti itu memperlihatkan bahwa dari satu muncul dua, dari dua muncul tiga, dari tiga muncul empat. Dari yang satu muncul dualisme, dari dualisme muncul sampai selanjutnya melakukan diversifikasi hingga banyak jumlahnya. Kesemuanya adalah berasal dari yang satu. Kalau  kita hitung lagi misalnya, 1+2+3+4+5+6+7=28 dan 2+8=10 kembali ke 1+0=1. Masih kurang yakin? Mari hitung lagi dengan yang lain, 1+2+3+4+5+6+7+8+9+10=55. Jika dijumlah maka 5+5=10 kembali menjadi 10 dan 1+0=1. Jika melihat pada ajaran Kabbalah yang menggunakan Tetraktis, empat angka, maka hasilnya akan tidak terbatas yang berujung pada angka 1.

Anda bingung? Kemajuan! Tidak bingung? Pulang saja!

One thought on “Soal Rencana Ilahi: Sebuah Pengantar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s